Sekilas Info Mengenai Pembukaan Perhelatan Akbar EIF 4

Alhamdulillah, acara pembukaan perhelatan akbar tahunan Forum Studi Islam Teknik (Foristek) yakni EIF 4 telah berlangsung dengan lancar dan hikmat pada hari minggu kemarin, acara pembukaan ini dimulai dengan agenda Seminar Nasional yang dilangsungkan di Convention Hall Universitas Andalas pada tanggal 18 Oktober 2015.

Acara pembukaan ini tidak semuanya berjalan dengan yang diharapkan, dikarenakan ketidaktepatan waktu dalam memulai acara, dan sebagian tamu-tamu penting yang diundang tidak bisa menghadiri acara pembukaan, namun hanya melalui seorang perwakilan. Meskipun acara ini tidak sesuai dengan rencana awal nya, tetapi animo dari para peserta yang hadir tidaklah menurun, peserta tampak sangat antusias dalam menghadiri acara pembukaan ini. Ketidak tepatan waktu ini menyebabkan beberapa rundown acara ada yang di lewatkan.

            Pembukaan EIF 4 ini dimulai dengan pembukaan oleh MC yang disampaikan oleh saudara M. Rendy, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pemutaran Video Grand Opening EIF 4. Pembukaan acara formal pada acara ini ditandai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan oleh penyampaian kata sambutan dari ketua pelaksana dan disambung oleh penyampaian kata sambutan dari ketua Foristek, pada kesempatan kali ini ketua Foristek menyampaikan mengenai tujuan acara EIF dilaksanakan, dan rangkaian acara EIF Foristek mulai dari pembukaan pada tanggal 18 Oktober, sampai pada tanggal 23 Oktober nanti, yang jatuh pada hari Jum’at, adapun rangkaian dari acara EIF 4 ini adalah Seminar Nasional yang langsung disambung dengan acara temu LDKT pada tanggal 18 Oktober 2015, Workshop Robotik pada tanggal 21 Oktober 2015, dan dihari terakhir Seminar kemuslimahan lalu di tutup dengan Tabligh Akbar pada tanggal 23 Oktober 2015 yang mana pada akhir acara Tabligh Akbar ini pemenang dari lomba Essay dan Desain Competition akan diumumkan.

Kata sambutan oleh ketua Foristek
            Setelah ketua Foristek menyampaikan beberapa kata sambutan, acara berikutnya yakni kata sambutan dari Rektor Universitas Andalas yang kali ini diwakili oleh Ketua LPMM Unand, yakni Prof. Dr. Herwandi M. Hum. “Marilah kita jadikan momentum dari tahun baru Hijriah ini sebagai sarana untuk merefleksikan diri kita kembali bahwa Islam itu adalah peletak dasar segala ilmu pengetahuan modern pada saat ini” sambut Herwandi pada kesempatan kali ini, dan Herwandi juga memberi kata selamat kepada Foristek yang telah berhasil mengangkat acara EIF 4 ini. Setelah Herwandi menyampaikan kata sambutan, acara langsung dibuka secara resmi yang ditandai dengan pemukulan beduk oleh Herwandi yang kali ini mewakili Rektor Unand.

Pemukulan beduk peresmian acara EIF 4 oleh Prof. Dr. Herwandi M. Hum sebagai perwakilan Rektor Universitas Andalas
            “Dengan bismillah acara EIF 4 diresmikan” sambut pak Herwandi sebelum memukul beduk tanda acara telah diresmikan. Acara dilanjutkan dengan pembacaan do’a agar rangkaian dari acara EIF 4 dapat berjalan dengan lancar sebagai tanda rundown acara resmi telah di akhiri. Sebelum acara yang paling ditunggu-tunggu dimulai, agar para peserta yang menghadiri acara pembukaan EIF ini tidak bosan dan acara nya tidak terkesan menoton, maka acara pada hari ini disuguhkan dengan hiburan nasyid yang telah dipersiapkan oleh panitia, nasyid kali ini dinyanyikan oleh Radhi Rahman, dan Ahmad Bidawi, dan nasyid yang dinyanyikan adalah muhasabah cinta.

Nasyid muhasabah cinta oleh Radhi Rahman dan Ahmad Bidawi
            Sebelum acara Seminar Nasional dimulai, MC memberi alih kepada moderator acara Seminar Nasional yang kali ini di amanahkan kepada Reido Deskumar. Setelah acara dialihkan ke moderator, moderator membacakan CV dari pemateri. “Teknologi mengindikasikan bahwa negara itu maju. Acara hari ini akan mengupas peran teknolog muslim dalam perkembangan teknologi di dunia untuk membuat bangsa maju dan tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain” kutip Reido Deskumar selaku moderator di selah-selah pembacaan CV dari pemateri. Setelah pembacaan CV pemateri dan menyampaikan tujuan dari acara ini diadakan, lalu moderator mempersilahkan kepada pemateri pertama yakni Ikhlasul Amal Phd untuk menyampaikan materinya mengenai nano teknologi.

Seminar Nasional dimoderatori oleh Reido Deskumar
            Diselah-selah penyampaian materi oleh Ikhlasul Amal, ada sebuah cambukan keras kepada kita sebagai generasi muda muslim yang tinggal di Indonesia, yaitu Indonesia negara besar, tetapi inovasi dari manusia nya sedikit, karena kunci dari peradaban dunia yakni inovasi teknologi. Lalu muncul pertanyaan, kenapa harus teknologi nano? Ikhlasul Amal dalam kesempatan kali ini menjelaskan bahwa dengan skala nano, semuanya dipandang dengan kharakteristik yang berbeda, seperti skala nano pada pigmen warna dan dengan skala nano dapat memudahkan terjadinya hidrolisis pada larutan kimia, seperti hal nya larutan katalis. Ternyata bukan hanya itu kelebihan dari teknologi nano, pada seminar ini Ikhlasul Amal juga menambahkan bahwa dengan nanoteknologi, manusia bisa merekayasa suatu teknologi, dan hal ini bisa bermanfaat dalam perkembangan dunia industri untuk kedepannya. Kebutuhan akan ilmu nanoteknologi juga semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi industri di dunia.

Penyampaian materi pertama oleh Ikhlasul Amal Phd
            “Pengaplikasian dari nanoteknologi insyaAllah akan kita nikmati pada tahun 2020” harap Ikhlasul Amal dalam sela penyampaian materi seminar, dan besar harapannya agar generasi muda di Indonesia-lah yang mengambil peran dalam pengembangan nanoteknologi di dunia, hal ini dikarenakan Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang kaya dan tidak kalah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia, tergantung pada kita sebagai generasi muda dalam mengembangkan semua sumber daya alam yang telah tersedia di Indonesia. “Untuk itu diperlukannya suatu inovasi dan kerja keras dari generasi muda Indonesia” tutup Ikhlasul Amal dalam seminar kali ini.

            Setelah penutupan dari materi pertama yakni Ikhlasul Amal, moderator langsung memberi kesempatan kepada pemateri kedua yakni Yostrizal Phd, untuk menyampaikan materinya. Materi kedua ini mengenai “Peranan Ilmuwan Muslim dalam Peradaban Dunia” yang kali ini dimulai dengan statement yang sangat mengejutkan yakni umat islam pada saat ini posisi dari penguasaan ilmu pengetahuan nya sangat dibawah. Padahal sebenarnya umat muslim pada masa lalu sangat menguasai ilmu pengetahuan, bahkan ada diantaranya yang menjadi penemu dan menetapkan suatu teori ilmiah dengan mengataskan nam dirinya sendiri.

Penyampaian materi kedua oleh Yostrizal Phd
            Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Professor Salim Al-Hasani yakni “Ada suatu lubang (masa kekosongan) dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang mana perkembangannya sangat pesat, bahkan seperti lompatan kodok dari masa pembangunan kepada masa Yunani Kuno” yang ternyata sebenarnya pada masa kekosongan tersebut ilmuan muslim sedang pesatnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa, namun semuanya ini terkesan ditutup-tutupi oleh bangsa barat, dan sekarang semua rahasia yang ditutup-tutupi tersebut sudah terbongkar, serta peranan para ilmuan muslim ini telah diakui oleh bangsa barat.

            Sejarah yang telah diukir oleh ilmuan muslim ini bukan untuk di bangga-banggakan, namun untuk dijadikan suatu pelajaran yang penting bagi kita sebagai generasi muda muslim untuk membentuk suatu kebangkitan ilmu pengetahuan seperti pada masa lalu. Selain itu, hal ini juga perlu diketahui oleh kita sebagai generasi muda muslim agar kita tidak mudah ditipu oleh penganut agama lain yang menentang agama kita, yang hanya menganggap agama kita hanyalah sekedar teroris saja.

            “Untuk itu, maka peranan kita sebagai generasi muda muslim Indonesia untuk melanjutkan kontribusi para ilmuan-ilmuan sebelumnya agar buah dari kontribusi kita tersebut dapat dinikmati dan berguna bagi khalayak masyarakat ramai” tutup Yostrizal sebagai pemateri kedua, yang menandakan bahwa acara penyampaian materi oleh pemateri Seminar Nasional EIF 4 telah berakhir dan dikembalikan kepada moderator untuk membuka sesi tanya jawab. Acara Seminar Nasional ini ditutup dengan sesi foto bareng antara panitia dan kedua pemateri seminar nasional.

Sesi foto bersama diakhir acara Seminar Nasional
            Suatu pelajaran yang dapat kita petik dari penyampaian kedua pemateri Seminar Nasional EIF 4 ini yakni generasi muda Islam di Indonesia berkesempatan untuk mengambil peran dalam kontribusinya untuk perkembangan teknologi didunia, namun kesempatan ini akan hilang dengan sia-sia apabila kita sebagai orang yang berkesempatan mengambil peran itu tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan semaksimal mungkin dan semua ini harus kita mulai dengan adanya kesadaran pada diri kita untuk tidak selalu dijajah oleh teknologi dari bangsa luar, dan menumbuhkan rasa kebangkitan dari para generasi muda muslim di Indonesia. 

0 comments:

Posting Komentar