Idealis, Nasionalis, Religius. Jangan Menunggu, make it yours!

Sahabat-sahabat, perjuangan Indonesia masih belum selesai. Tanggal 17 Agustus 1945, bukanlah akhir dari catatan perjuangan Indonesia. Ide yang terbangun, bahwa 17 Agustus adalah akhir dari perjuangan Indonesia, menciptakan suatu suasana yang sarat akan impotensi nasionalisme. Artinya banyak masyarakat yang berfikiran bahwa tidak ada lagi yang patut diperangi atau diperjuangkan sehingga ini menjadi degradasi terhadap semangat nasionalisme.

Dari terciptanya suatu suasana yang tiada patut dipertahankan, atau bahkan dibanggakan, menjadikan masyarakat terutama kaum remaja malas untuk menelaah ulang sejarah perjuangan Indonesia. Hal ini seakan-akan memutus warisan semangat yang seharusnya dapat ditransformasikan melalui wacana sejarah. Banyak dari kaum muda dan kaum tua yang melupakan jasa-jasa pahlawan kita, atau mungkin tidak mengetahui sama sekali. sehingga umumnya pada masyarakat menjadi kebingungan apa yang harus diperjuangkan. Sampai akhirnya perjuangan itu hanya untuk memperjuangkan kepentingan individu.

Banyak terjadi kasus korupsi, pelecehan, penyiksaan, perampokan, dan penipuan. Adalah akibat dari pelestarian wacana-wacana sejarah yang tidak tuntas. Mungkin ini menjadi kesalahan pendidikan, dan mungkin saja tidak. Karena apapun itu terkait pengetahuan, arahan, dan kewajiban yang telah diperoleh dari proses pembelajaran nantinya ditentukan oleh kemauman dan minat pribadi. Maka setiap lini menjadi faktor yang memungkinkan terjadinya persoalan demikian.

Persoalan awal hanya sejarah yang terlupakan ini tidak cepat tersadari oleh pemimpin bangsa dan umumnya masyarakat Indonesia, berdampak pada persoalan negara, agama, sosial, dan ekonomi yang sangat kompleks. Kekompleksitasan persoalan itu dapat kita simak memalui kasus-kasus yang sering diberitakan, seperti korupsi yang sudah tidak henti-hentinya menjadi sajian setiap hari yang menyeret sederatan nama, seperti Ratu Atut, Nazaruddin, Anjie, Anas Urbaningrum, bahkan anak kandung SBY, Ibas juga tersebut manjadi pelaku korupsi. Persoalan dalam ekonomi, yaitu Minimnya produksi pertanian, peternakan, industri, kerajinan, dan pasar. Persoalan banjir yang bahkan telah menjadi bencana tahunan. Kesemuanya adalah imbas dari lemahnya transformasi ideologi, dan sejarah yang seharusnya dapat tertanam dalam di hati dan fikiran kita.

Lebih jelas lagi, persoalan di negara kita ini terletak pada “krisis kepemimpinan”. Sudah jarang sekali ditemukan pemimpin yang memang benar-benar idealis. Hampir bisa dipastikan setiap orang-orang yang menduduki jabatan di parlemen tidak berangkat atas asumsinya pribadi “bahwa untuk memperjuangkan rakyat”. Tapi sudah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan pihak lain. Dalam artiyan terciptanya suasana saling menguntungkan. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan seperti kalangan masyarakat kelas bawah, karena berangkat untuk kepentingan pribadi yang musti tidak sama antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum. Kemiskinan dan pengangguran yang membludak adalah akibat dari konspirasi dari kepentingan pihak elit.

Sebuah penantian Tokoh (Revolusioner) baru…

Kita kehilangan sosok-sosok berpengaruh di negara kita, yang menjadi bahan refrensi berkebangsaan. Seperti sosok Abdurrahman Wahid yang memiliki toleransi tinggi terhadap antar etnis, hingga ia dijuluki Guru Bangsa. Dan lagi, seperti sosok Tan Malaka yang terlupakan, ia seorang revolusioner yang namanya sangat gandrung di kancah perjuangan perebutan kemerdekaan saat itu.

Kedua tokoh itu sangat idealis. Mereka tahu betul alur sejarah ke-Indonesiaan dan nantinya berorientasi ke arah mana. Dan keduanya sangat populer di zamannya. Mungkin Tan Malaka sudah tidak begitu tersorot oleh pengetahuan kita. Namun yang masih tersohor Gus Dur (sebutan, Abdurrahman Wahid) sampai saat ini. Kiprahnya dalam bidang intelektual, keagamaan, politik, dan sosial sangat berpengaruh bagi Indonesia. Tidak dipungkiri Tan Malaka juga mempunyai sumbangsih besar bagi Indonesia. Ia yang dahulu sempat digadang-gadang menjadi presiden pertama Indonesia itu mempunyai beberapa buku, yang dimana buku-buku itu hampir mewakili isi pemikirannya dalam berkiprah memperjuangkan kemerdekaan. Diantaranya, MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika), kemudian GERPOLEK (Gerilya, Politik, dan Ekonomi). Begitupun dengan Gus Dur, mempunyai sederatan buku yang dimana, buku itu lahir dari persoalan yang melanda negara kita. Buku-buku itu seperti Tuhan Tidak Perlu Dibela, dan Islamku, Islam Kamu, Islam Kita.

Keidealisan mereka tentu akan berdampak signifikan. Dampak tersebut menimbulkan berbagai kecaman dari banyak kalangan, seperti pihak militer atau oposisi politik. Ini hal yang wajar, karena ketika suatu kebenaran harus terlontar, maka kepahitan yang terasa. Ini tidak dipungkiri. Seperti saat Gus Dur mengungkap terang bahwa DPR hanya sekumpulan anak-anak TK (Taman Kanak-kanak), serentak Gus Dur mendapat serangan dari pihak-pihak yang menganggap dirinya itu “oposisi”. Begitupun Tan Malaka yang mendapat intimidasi dari kalangan militer sampai pada akhirnya ia meninggal di Kediri, yang diduga karena dibunuh.

Ini sekedar sempel dari penokohan seorang idealis yang memperjuangkan kebenaran demi kemaslahatan bersama. Gerakan-gerakan seperti ini yang senantiasa dicari-cari untuk kemudian digadang-gadang akan adanya perubahan., dan terlebih penting munculnya orang-orang yang berjiwa idealis, Nasionalis, dan Religius.

Perlunya Sosok Idealis, Nasionalis, dan Religius. Pada Zaman Sekarang

Ada sosok idealis, dan nasionalis seperti Tan Malaka, ada sosok idealis, dan religius seperti Gus Dur, dan ada pula sosok idealis, nasionlis, dan religius seperti Ir. Sukarno yang belum sempat saya paparkan di atas. Kenapa dapat dikatakan Ir. Sukarno mempunyai jiwa ketiga-tiganya itu. Indikasi itu berangkat dari faktor pemikirannya yang tercetus dari buku agung Di Bawah Bendera Revolusi, di sub bab NASAKOM (Nasionalis, Agamis, dan Komunis).

Pemikiran Ir. Sukarno terhadap NASAKOM berangkat dari asumsi, bahwa rakyat Indonesia berangkat dari tiga nilai dominan. Nilai-nilai itu seperti nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Akhirnya, oleh Ir. Sukarno diringkas menjadi satu wadah pemikiran NASAKOM. Harapan dari pemikiran itu, mampu mengakomodir pergerakan masyarakat secara keseluruhan yang heterogen ini.

Demikian Ir. Sukarno, Gus Dur, dan Tan Malaka, yang pada eranya menjadi pimpinan pergerakan alur negara. Dengan berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, maka perlu adanya sosok penerus perjuangan pahlawan yang dikedepankan di garda depan revolusi Indonesia. Karena perjuangan belum berakhir.

Perang Belum Berakhir…

Sahabar-sahabat, perlu kita ketahui, bahwasanya perang belum berakhir. Mengaca pada persaingan politik, ekonomi, militer, sosial, kultur global. Maka perang yang senantiasa kita nisbahkan pada benturan antar fisik dan saling melukai, sudah tidak lagi berlaku pada era saat ini. Perang yang terjadi bisa dikatakan lebih sadis  dari pada perang-perang terdahulu.

Satu contoh kecil perihal ekonomi, banyak pasar-pasar, tani, dan nelayan yang terus ditekan ke bawah perekonomiannya. Hal ini tentu lambat laun akan mematikan daya kekuatan rakyat secara perlahan. Harga BBM yang melambung, pupuk yang langka, dan konsumen yang mulai tidak meminati pasar tradisional. Adalah bukti dari imbas perang saat ini. Sistematika prosedur perekonomian yang tidak menyejahterakan dan menguntungkan sebagian golongan menjadi salah satu persoalan dari perang global.

Lebih dari itu, dalam persoalan pendidikan. Indonesia mengalami berbagai degradasi diberbagai sektor pengembangan  pengetahuan, pembelajaran, dan pendidikan (karakter). Banyak siswa yang menganggap sekolah hanya sebagai persoalan formalitas untuk persiapan hidup, guru-guru lebih mencari keuntungan nominal daripada mengabdi, dan sudah jarang figur yang mampu mengakomodir berbagai karakter untuk diarahkan dalam satusuri taudalan mulia. Demikian tadi juga tergolong indikasi dari perang global yang sarat akan untung rugi.
Mengaca keadaan demikian, dibutuhkan jiwa yang siap mental, dan intelektual untuk melawan balik perang global tersebut. Jika tidak demikian, maka sedikit demi sedikit bangsa ini akan mengalami kehancuran.

Jangan menunggu, kita figurnya

Selalu kita berdoa selepas beribadah, memohon kepada-Nya agar negara tetap diberikan kemakmuran, dan nanti ada satu figur yang menjadi pemimpin rakyat yang patut dicontoh.
Kemakmuran, dan pengfiguran itu bukan lagi angan-angan yang belasan tahun kemudian baru terwujud. Tapi tindakan nyata dari kita mulai sekarang. Ini penting kita sadari, bahwa sedapat mungkin kita harus sadar bahwa negara tengah mengalami krisis besar. Yang krisis itu sudah sangat kompleks, sampai kita menganggap hal biasa. Adanya korupsi tak henti-henti, pastilah menimbulkan asumsi bahwa fenomena demikian sudah menjadi hal biasa. Artinya sudah tidak lagi perlu dipersoalkan. Hanya menjadi regulasi silogism, ada kasus ada tindakan hukum. Selalu itu yang bergulir. Tanpa adanya siasat besar untuk menghentikan atau meminimalisir korupsi. Korupsi hanya contoh persoalan yang harus kita selesaikan, dan masih banyak lagi persoalan. Sejatinya ini menjadi penggugah bagi kita semua, para pemuda untuk terus menanamkan semangat kebangsaan didalam jiwa kita, apa yang kita rasakan saat ini merupakan pelajaran mahal dan ibrahnya merupakan acuan penataan masa depan bangsa yang kelak kita pikul. Jadi, Idealis, Nasionalis, Religius. Jangan menunggu, Make it Yours!

0 comments:

Posting Komentar