BIRRUL WALIDAIN: "Tuntunan Akhlak Terhadap Orangtua dalam Agama Islam"

Assalamualaikum . . . .
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,


            Sebelum membahas tentang akhlak terhadap orang tua, ana akan menampilkan video renungan sejenak untuk ikhwah fillah, mudah-mudahan video ini dapat menenangkan jiwa kita, sehingga dapat menerima materi bahasan kali ini dengan penuh kesadaran.


            Bagaimana ikhwah fillah? Sudah teresonansikah jiwa ikhwah fillah sekalian? Jika sudah, mari kita mulai membahas tentang akhlak terhadap orangtua, mungkin bisa dimulai dari kenapa kita mesti membahas tentang akhlak terhadap orang tua. Salah satu ajaran paling penting setelah ajaran Tauhid adalah berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan, menurut pendapat banyak ulama, ajaran berbakti kepada kedua orang tua ini menempati urutan kedua setelah ajaran menyembah kepada Allah s.w.t. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q,s. al-Isra’ / 17:23)

Ikhwah fillah, Ada tiga kelompok yang disebut orang tua dalam ajaran Islam. Pertama, الأب الذي ولدك: bapak-ibu yang melahirkan, yaitu bapak-ibu kandung. Kedua, الأب الذي زوجك: bapak-ibu yang mengawinkan, yaitu bapak-ibu mertua. Ketiga,الأب الذي علمك: bapak-ibu yang mengajarkan, yaitu bapak-ibu guru. Ketiga kelompok inilah yang diwajibkan atas kita untuk menghormati dan berbuat baik kepadanya.

Ikhwah fillah yang dirahmati Allah, dalam tulisan kali ini penulis hanya akan membahas tentang akhlak terhadap orang tua dan guru saja. Mungkin bisa kita mulai saja dengan membahas akhlak terhadap orang tua

A.    Akhlak terhadap orang tua

“Orang tua adalah penyebab perwujudan kita”, mungkin ini bisa menjadi suatu ungkapan yang menyatakan pengorbanan orang tua dalam mendidik dan membesarkan diri kita. Coba ikhwah fillah bayangkan, bagaimana repotnya ibu ketika mengandung selama kurang lebih 9 bulan. Kerepotan ibu, dan bapak, semakin bertambah ketika kita terlahir ke dunia, kerepotan itu mulai dari merawat, memelihara, dan memberinya makan dan minum dengan penuh kasih anang. Bagi orang tua tidak ada yang lebih berarti daripada sang jabang bayi yang baru saja dilahirkannya. Mereka sangat bahagia dengan tangisan dan kotorannya, akan tetapi mereka akan sedih ketika harus melihatnya sakit.

Ikhwah fillah, dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, Al-Qur’an menganjurkan agar kita melakukannya dengan cara “ihsān”. Ihsan artinya kita melakukan sesuatu lebih dari sekedar kewajiban. Berbuat baik kepada kedua orang tua harus diupayakan secara maksimal, secara ihsan, lebih dari sekedar kewajiban kita terhadapnya. Jika sang anak ingin memberikan sesuatu kepada orang tua, berikanlah yang maksimal. Karena yang maksimal saja belum tentu dapat sebanding dengan jerih payah dan pengorbanan keduanya selama ini dalam mengasuh dan membesarkannya. Seseorang anak bisa mencapai cita-citanya, tentu berkat jerih payah dari kedua orang tuanya.

Itulah pengorbanan orang tua dalam memelihara, mengasuh dan membesarkan kita hingga seperti ini. Oleh karenanya, Al-Qur’an lagi-lagi menegaskan:

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Q, s. Luqman / 31:14)

Jadi menurut Al-Qur’an ibu mengandung, melahirkan dan menyusui adalah suatu pengorbanan yang luhur, yang menuntut adanya balasan terimakasih dari anaknya. Hal ini sangat berbeda dengan Genesis dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa wanita mengandung, melahirkan dan menyusui adalah akibat dosanya (melalui Hawa, istri Adam) yang telah melanggar larangan Tuhan di Surga.

Ikhwah fillah, Subhanallah, rupanya islam dalam konteks akhlak terhadap oranng tua dapat membuktikan bahwa agama islam sungguhlah agama yang rahmatin lil alamin, hal ini terlihat dari berbuat baik kepada orang tua dalam Islam bersifat mutlak. Artinya, andai kata kedua orang tua ikhwah fillah kebetulan berbeda agama dengan ikhwah fillah sekalian, Al-Qur’an tetap mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada keduanya. Artinya, berbuat baik kepada kedua orang tua itu tidak didasarkan atas kesamaan agama, tetapi lebih karena jasa-jasa baik keduanya terhadap perkembangan dan jati diri kita.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q, s. Luqman / 31:15)

Ada pula sebuah hadits yang menceritakan pentingnya menghormati orang tua (khususnya ibu) yang berbeda akidah dengan kita, yaitu:
Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata: “Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah . Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah dengan mengatakan: “Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (berbuat baik kepadanya), apakah aku (boleh) menyambung (persaudaraan dengan) ibuku” beliau bersabda: “ya, sambunglah ibumu”. (HR. Al-Bukhari dan Mus lim).

Dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua tersebut, Al-Qur’an mengajarkan agar kita berdo’a:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

Ya Tuhanku, berilah rahmat kepada kedua orang tuaku, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil. (Q, s. al-Isra’/17:24)

Adapun akhlak anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut : Anangilah, cintailah, hormatilah, patuhlah kepadanya rendahkan dirimu, sopanlah kepadanya. Ketahuilah bahwa kita hidup bersama orang tua merupakan nikmat yang luar biasa, kalau orang tua kita meninggal alangkah sedihnya hati kita karena tidak ada yang dipandang lagi. Dalam hal ini rasulullah bersabda :Tidaklah seseorang melihat kepada orang tuanya dengan pandangan kasih anang melainkan Allah menetapkan baginya akibat pandangannya itu adalah haji yang diterima dan mabrur.



Untuk itu, untuk ikhwah fillah yang orang tua nya masih hidup, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, jangan tunggu sampai orang tua ikhwah fillah sekalian meninggal dunia. Lalu, bagaimana cara berbuat baik terhadap orang tua yang sudah meninggal? Rupanya agama islam mengajarkan kita untuk terus berbuat baik terhadap mereka walaupun mereka sudah meninggal dunia. Barbuat baik terhadap orang tua yang sudah meninggal dapat dilakukan dengan cara:
1.        Merawat Jenazahnya dengan memandikan, menshalatkan dan menguburkanya.
2.        Melaksanakan wasiat dan menyelesaikan hak Adam yang ditinggalkannya.
3.       Menyambung tali silaturahmi kepada kerabat dan teman–teman dekat dengan orang tua kita atau Memuliakan teman-teman kedua orang tua.
4.        Melanjutkan cita-cita luhur yang dirintisnya atau menepati janji kedua ibu bapak.
5.    Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu dan meminta ampun kepada Allah dari segala dosa orang tua kita.

Lalu apabila ada orang tua ikhwah fillah yang melakukan kesalahan, bahkan kesalahan ini bertentangan dengan nilai islami, apa yang mesti ikhwah fillah perbuat? Islam juga mengajarkan kita untuk menghadapi hal ini yaitu dengan cara:
·         Jika suatu saat kamu disuruh berbohong oleh ibu atau ayah, sebaiknya katakan kepada keduanya bahwasanya Allah melihat kita.
·        Jangan sekali-kali membantah perintah orang tua dengan nada kesal dan ngotot, sebab tidak akan mambuahkan hasil. Akan tetapi hadapi dengan tenang dan penuh keyakinan dan percaya diri.
·         Ayah dan ibu itu manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Jangan posisikan kedua orang tua seperti Nabi yang tak pernah berbuat salah. Maafkan mereka, bila kita anggap cara dan perintah orang tua bertentangan dari hati nurani atau nilai-nilai yang kamu yakini kebenarannya.

Bagi ikhwah fillah yang hubungan dengan orang tuanya masih tidak harmonis, bersegeralah perbaiki hubungan antara ikhwah fillah dan orang tua yang sedang tidak harmonis itu. Segeralah memohon maaf dengan orang tua ikhwah fillah sekalian, jangan sampai orang tua kita marah dan murka terhadap ikhwah fillah dikarenakan kesalahan yang ikhwah fillah lakukan terhadap mereka, karena hal ini dapat menjadikan kita anak yang durhaka, dan durhaka terhadap orang tua dapat menyababkan:

1.        Anak-anak yang mendurhakai orangtuanya akan di kutuk oleh Allah
Allah akan melaknat orang yang durhaka terhadap orang tua, dan mengharamkan surga baginya, hal ini sesuai dengan hadits berikut:

رضى الله في رضى الوالدين وسخط الله في سخطالوالدين (متفق عليه) 

Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Sesuai dengan sabda Rasul yang artinya:
“Barang siapa yang membuat ibu bapaknya marah, maka berarti membuat Allah marah kepadanya” (H.R Bukhari)

2.        Disegerakan siksanya di dunia ini.
Sesuai dengan sabda Rasul yang artinya:
“Semua dosa itu, siksanya akan di tangguhkan Allah sesuka-Nya, kecuali dosa karena dosa kepada orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakannya dalam hidup di dunia ini sebelum meninggal dunia” (H.R Hakim)

Terdapat juga riwayat rasul yang mengatakan:
“Ada 2 dosa yang disegerakan hukumannya di dunia ini, yaitu zina dan durhaka kepada kedua orangtua”.

Akhlak terhadap orang tua adalah akhlak yang sangat penting, hingga dosa dari berbuat durhaka kepada orang tua berada di tingkat kedua setelah dosa menyekutukan Allah.

B.     Akhlak murid terhadap guru

Tidak berbeda dengan kedua orang tua dirumah, guru pun merupakan orang yang berjasa terhadap kita sebagai murid yang dibimbingnya. Dengan kata lain guru merupakan orang yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid diluar bimbingan orang tua dirumah, wajar banyak yang mengatakan bahwa guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kita dirumah, sehingga akhlakul karimah terhadap guru perlu di terapkan sebagaimana akhlak kita terhadap orang tua kita dirumah.

Tuntunan dalam berakhlak terhadap guru telah disusun oleh Ibn jama’ah, yaitu dengan cara-cara sebagai berikut:
·        Murid harus mengikuti guru yang dikenal baik akhlak, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan penyayang. Ia tidak mengikuti guru yang tinggi ilmunya tetapi tidak saleh, tidak waras, atau tercela akhlaknya.
·         Murid harus mengikuti dan mematuhi guru. Menurut ibn jama’ah rasa hina dan kecil di depan guru merupakan pangkal keberhasilan dan kemuliaan. Ia memberikan umpama lain, yaitu penuntut ilmu ibarat orang lari dari kebodohan seperti lari dari singa ganas. Ia percaya kepada orang penunjuk jalan lari.
·       Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya. Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuwan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.
·        Murid harus mengingat hak guru atas dirinya sepanjang hayat dan setelah wafa. Ia menghormati sepanjang hidup guru, meski wafat. Murid tetap mengamalkan dan mengembangkan ajaran guru.
·       Murid bersikap sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.
·        Murid harus menunjukkan rasa berterima kasih terhadap ajaran guru. Melalui itulah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah di ketahui murid, ia harus menunjukan rasa ingin tahu tinggi terhadap informasi.
·        Murid tidak mendatangi guru tanpa izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain. Jika telah meminta izin dan tidak memperoleh. Ia tidak boleh mengulangi minta izin. Jika ragu apakah guru mendengar suaranya, ia bisa mengulanginya paling banyak tiga kali.
·          Harus duduk sopan didepan guru. Misalnya, duduk bersila dengan tawadu’, tenang, diam, posisi duduk sedapat mungkin berhadapan dengan guru, atentif terhadap perkataan guru sehingga tidak membuat guru mengulangi perkataan. Tidak di benarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.
·          Bekomunikasi dengan guru secara santun dan lemah- lembut. Ketika guru keliru baik khilaf atau karena tidak tahu, sementara murid mengetahui, ia harus menjaga perasaan agar tidak terlihat perubahan wajahnya. Hendaknya menunggu sampai guru menyadari kekeliruan. Bila setelah menunggu tidak ada indikasi guru menyadari kekeliruan, murid mengingatkan secara halus.
·        Jika guru mengungkapkan satu soal, atau kisah atau sepenggal sair yang sudah dihafal murid, ia harus tetap mendengarkan dengan antusias, seolah-olah belum pernah mendengar.
·    Murid tidak boleh menjawab pertanyaan guru meskipun mengetahui, kecuali guru memberi isyaratia memberi jawaban.
·     Murid harus mengamalkan tayamun (mengutamakan yang kanan). Ketika memberi sesuatu kepada guru. Harus menjaga sikap wajar, tidak terlalu dekat hingga jaraknya terkesan mengganggu guru. Tidak pula terlalu jauh hingga harus merentangkan tangan secara berlebihan yang mengesankan kurang serius.

Ikhwah fillah, mungkin ini saja pembahasan kita kali ini, jika ada kejanggalan dalam peyampaian ana, ana pribadi mohon maaf atas kesalahan ana tersebut, karena kesalahan itu datang dari diri ana pribadi, dan kebenaran hanyalah berasal dari Allah s.w.t, dan kekasih-Nya Nabi Muhammad s.a.w. Dari pembahasan an tadi, mudah-mudahan dapat membuat keluarga kita semakin harmonis dan menjadi keluarga yang tentram dan nyaman apabila berada dilingkungan keluarga itu seperti pada gambar dibawah ini.


Wassalamualaikum . . . .

By : Syiar Foristek, Share and Care.

0 comments:

Posting Komentar