Tiga Karakteristik Manusia

Assalamualaikum Wr. Wb.
Shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, karena berkat karunianya lah kita dapat merasakan zaman yang terang benderang seperti pada saat sekarang ini. Dan tidak lupa atas berkat limpahan rahmat serta karunia Allah lah kita masih tetap konsisten untuk berada di jalan Allah ini, mudah-mudahan Allah akan terus tetap menguatkan diri kita berada di jalan dakwah.
Pada akhir massa ini, memang agak susah dan berat membina seseorang agar menjadi lebih baik, dan agar tetap berada di jalan Allah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada pembahasan kali ini, Ana akan membahas mengenai beberapa kategori manusia dalam kehidupan, dan cara mengolah dakwah pada setiap kategori manusia tersebut.
Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:
1.      Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke mesjid. Orang yang seperti ini harus dinomor satukan, karena mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak, dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.
2.      Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah 
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya. Orang semacam ini menempati urutan kedua.
3.      Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya karena perbuatan dan tingkah lakunya yang jelek.
Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya karena takut dengan kejelekannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw. sebagai: "Sejelek-jelek teman bergaul". (HR. Muslim). Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas dakwah fardiyah. Dalam mengatasi orang-orang yang seperti ini perlu diadakan suatu pendekatan yang harus kita lakukan, yaitu dengan cara lemah lembut. Kita harus menyadari bahwa kita tidak diwajibkan untuk memastikan mereka semua menerima ajakan kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah.
Dalam surat Al-Qashash ayat 56, Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [٢٨:٥٦]

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)
Ayat ini menjelaskan bahwa walaupun kita memberikan segenap hati kita untuk mengajak mad'u kita, tetapi hanya Allah-lah yang berhak membolak-balikkan hati orang tersebut. Inilah keadaan da'i tatkala berdakwah di masyarakat; ia memberi sekaligus menerima (give and take). Suatu saat ia mendekat dan pada saat yang lain ia menjauh.
Ia akan memberi kepada setiap orang sebagaimana seorang dokter yang memberikan obat dengan berlaku sabar. Setelah selang beberapa waktu, di antara mereka sudah ada yang tersinari oleh cahaya iman, ada yang menyambut ajakan tersebut karena perasaan takut, ada yang menyambut ajakan tersebut karena malu, ada yang bersikap angin-anginan, ada pula yang menjauh, dan bahkan ada yang berlaku tidak baik terhadap sang da'i. Untuk menghadapi mereka itu, kita tidak boleh putus asa, tetapi harus terus berusaha sehingga yang ditunggu-tunggu dapat dipetik, disertai dengan doa agar Allah membukakan hati mereka.
Adapun da'i yang menghabiskan waktunya hanya untuk satu orang dengan harapan agar orang tersebut mau menerima ajakannya adalah tidak benar. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya diajak dengan cara yang sangat berlebihan, sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah swt.
Dalam seluruh pebahasan yang Ana sampaikan diatas, intinya adalah kaedah yang harus kita perhatikan adalah: "Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jangan kerjakan yang sulit   jika ada yang mudah".
Mungkin itulah pembasan kali ini, kalau ada kesalahan dalam penyampaian Ana, Ana mohon maaf dan koreksinya, mudah-mudahan pembahasan kali ini dapat menjadi suatu pedoman untuk diri kita untuk terus mengupgrade metode dakwah kita sesuai dengan kategori para jamaah yang akan kita berikan suatu taujih, lebih dan kurang Ana ucapkan terimakasih.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

1 komentar: