belajar dari perampok

ilustrasi-perampok
man taraka syai-in fii haraamihi naala fii halaalihi…
“barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam kondisi haramnya , niscaya ia mendapatkannya dalam kondisi halal”
       Malam itu ada seorang lelaki hendak merampok. Karena lapar dan belum dapat hasil rampokan, ia mencari persinggahan di masjid Rasulullah saw. mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Ia sesungguhnya minder dengan profesinya tersebut. Ia duduk di pojok. Jauh dari para sahabat Nabi yang tengah menyimak nasihat-nasihat Nabi saw. Ia menyendiri dengan lapar menyelimuti.
       Rasulullah saw. bersabda, “man taraka syai-in fii haraamihi naala fii halaalihi…..barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam kondisi haramnya , niscaya ia mendapatkannya dalam kondisi halal”
       Sayup-sayup ia dengar nasihat nabi tersebut. Karena rasa lapar yang sangat, nasihat ini saja yang dapat ia rekam dengan akurat, yang lainnya lewat. Hingga kajian pun usai.
       Malam semakin larut,
rasa laparnya semakin kuat menggerogoti perut. Di tengah sepinya malam ia keluar. Mencari pengganjal perut : mangsa. Sebuah rumah pintunya terbuka. Rumah janda muda yang ditinggal mati suaminya. Kesempatan emas di depan mata. Hidangan tersaji seiring rasa lapar yang menggoda. Ia masuki rumah itu dengan mudah.
       Saat hendak meraih makanan tersebut, ia tergetar. Pesan nabi hadir, “man taraka syai-in fii haraamihi naala fii halaalihi”. Meski rasa lapar menggerogoti, ia urungkan diri meraih makanan yang telah tersaji.
       Ia berjalan hendak keluar. Ia lihat lemari berisi emas dan perhiasan. Dengan harta itu ia bisa membeli makanan, sehingga berkecukupan, tidak lagi kelaparan. Saat hendak meraih harta dan perhiasan itu, pesan Nabi kembali terngiang. “barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam kondisi haramnya , niscaya ia mendapatkannya dalam kondisi halal”. Ia gagalkan diri untuk mengambil perhiasan yang bukan miliknya itu.
       Masih lapar, ia bergegas keluar. Melewati kamar, hatinya tergetar. Melihat janda muda itu tertidur, syahwatnya berkobar. Ia datangi kamar wanita itu. Kembali ia gemetar. Tersentak. Tersadar. “man taraka syai-in fii haraamihi naala fii halaalihi.”
       Takut. Lapar. Gemetar. Ia kembali ke masjid nabi, beristighfar. Subuh datang. Ia tetap di masjid dalam keadaan takut dan gemetar serta menahan rasa lapar.
       Pagi hari. Seorang wanita menghadap Nabi. Ia ceritakan bahwa tadi malam seseorang menyatroni rumahnya, hendak merampok dan memperkosanya. Tapi orang itu pergi begitu saja. Wanita itu minta kepada Nabi untuk mencarikan suami, laki-laki sholeh dan siap melindungi.
       Nabi pun mencari siapa yang bersedia menjadi pendamping janda ini. Nabi ditunjukkan pada seorang laki-laki yang sedang sendiri. Perampok kelaparan tadi. Nabi menawari. Laki-laki itu menyanggupi. Pernikahan terjadi.
      Pesan Nabi kembali hadir. “man taraka syai-in fii haraamihi naala fii halaalihi.”, “barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam kondisi haramnya , niscaya ia mendapatkannya dalam kondisi halal”.  Terbukti ia kini halal makan makanan yang semalam haram baginya. Halal memiliki harta dan perhiasan wanita yang kini jadi istrinya. Ia halal untuk menggauli janda yang semalam haram baginya.

0 comments:

Posting Komentar