ujian dalam ISLAM??

gimana sih pandangan islam tentang ujian??
mari sama-sama kita kaji... ^_^

Ujian merupakan suatu konsekuensi yang harus dilalui oleh seseorang yang berada dalam proses pembelajaran. Ia menjadi penentu sejauh mana kemampuan seseorang terhadap ilmu yang diperoleh. Tidak mengherankan, kalau ujian menjadi momok yang menakutkan pada sebagian besar pelajar, sebab ujian  menjadi bukti penentu nasib mereka, untuk lanjut ke depan atau malah berdiam di tempat.
Suatu ketika Salman Al Farisi didatangi oleh seorang kafir dan berkata dengan nada mengejek “ Hai Salman, benarkah nabimu mengajarimu semua hal sampai dalam masalah buang air?” Salman lantas menjawab dengan bangga, “ya, betul. Beliau mengajarkan kami semua hal
sampai dalam hal buang air”. Kisah tersebut menegaskan, bahwa islam adalah agama yang sempurna. Islam menjawab setiap permasalahan umat. Disini, islam juga menjawab masalah pelajar yaitu masalah mengenai ujian, bagaimana cara menghadapi ujian dan menjalaninya.
“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaansuatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS Arra’du:11). Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk berusaha. Usaha adalah langkah utama yang harus dilalui. Pelajar yang ingin mendapat keberhasilan dalam ujiannya haruslah berusaha terlebih dahulu, yaitu dengan belajar dengan sungguh-sungguh.
“Barang siapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS At-thalaq:3) . Do’a dan tawaqal adalah hal yang diperlukan setelah usaha. Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata “Tawakal yang hakiki adalah penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah ta’ala dalam meraih berbagai kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari semua bahaya, dalam semua urusan dunia maupun akhirat, menyerahkahkan semua urusan kepadaNya dan meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat kecuali Allah (semata)”. Jadi, usaha yang dilakukan haruslah disertai dengan tawakal serta do’a, karena sesungguhnya Allahlah yang akan menentukan keberhasilan seseorang. Selain itu, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa beristighfar dalam setiap waktu, agar Allah memberikan kemudahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi hambaNya.
“Siapa yang membiasakan istighfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rizki dari arah yang tidak ia sangka” (HR . Abu Daud, Ibn Majah,Ahmad, Ad-daruquthni, Al-baihaqi dan yang lainnnya).
Lalu, bagaimana dengan mencontek ketika ujian? Bagaimana Islam mengaturnya?
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu jujur dalam berkata maupun berbuat. Apakah mencontek adalah bentuk kejujuran? Tentu saja tidak, Rasulullah mengancam umat yang melakukan penipuan dalam hadistnya “Barangsiapa yang menipu kami, bukan termasuk golongan kami.” Komite tetap fatwa Saudi pernah berkata “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar”.
Kebanyakan mereka yang melakukan kecurangan dengan mencontek, menginginkan nilai yang tinggi dan merekapun bangga ketika orang lain memuji  nilai yang bukan haknya itu. “.. dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab..“(Ali Imran:188) Allah pun memberi peringatan terhadap orang yang melakukan kecurangan.
Begitulah islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berusaha, bertawaqal, beristighfar dan berdoa. Semoga dalam setiap ujian yang diberikan menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa mengingat Allah, jujur serta bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan. Amiin.

 tetap semangat ujian ya.. !! ^^
 Presented by :
Department SYIAR FORISTEK
"UTAMA dan DIANDALKAN"




1 komentar: