Pemenang Surat Cinta Untuk mama

Tanggal 22 Desember merupakan hari yang dikenal sebagai hari ibu
dalm rangka merayakan hari Ibu
Foristek Unand mengadakan perlombaan Surat Cinta Untuk mama
pemenang dari surat cinta untuk mama ini berasal dari jurusan Teknik Sipil
namanya adalah akhina Fadli Hafizulhaq ini dia surat itu..


Assalamu’alaikum, Mama..
            Kurangkaikan kata-kata ini meski tak seindah pelangi. Kata cinta yang tak pernah berani bibirku mengucap. Kata rindu yang bagai semilir angin menyusup melalui sela-sela pintu hati, begitu sejuk.
            Kurangkaikan kata-kata ini meski tak semerbak kembang. Kata cinta yang lebih indah dari segala rupanya. Kata rindu yang menyeruak dari bilik jantungku, mengalir bersama darah. Membuatku tersenyum di setiap hembusan napas.Menguatkan sendi-sendi ini untuk tegap berdiri, begitu kokoh. Hingga hari ini teruntuk menjemput pelangi, untukmu, untuk Mama.
Betapa aku mencintaimu meski tak sebesar cintamu padaku…
            Delapan belas tahun kasihmu mengalir, menghiasi bagai jajaran kembang disepanjang jalan. Menerangi bagai mentari di kala siang. Menenenangkan bagai bintang gemilang pada malam redup cahaya. Kau tentu bukan kembang, bukan mentari, bukan pula bintang-bintang itu, namun… kau perempuan tangguh yang membawa dan mendidikku di tengah kefanaan dunia. Kau kucinta, begitu cinta, dalam hati untuk setiap langkah yang terlewati.
            Aku yakin Mama tau, pun aku tak pernah membuatmu mendengar aku berkata “aku cinta padamu”, kau tentu tau betapa dalam aku mencintaimu.syair-syair cinta telah sekian kali kuucap, meski dalam hati. Kala tersimpul sebuah senyum dibibirku, begitu tulus. Hatiku berkata “aku begitu cinta, sangat cinta”, dalam bahasa hati, tentu. Hatimu pun mengerti, ku tau sebab kudapati senyum termanis untuk membalas kata cinta hatiku itu.
Betapa aku merindukanmu di setiap hembusan napasku…
            Kau hanya tak tak pernah bertanya, siapakah gerangan yang paling kurindu di dunia ini. Tapi aku tau, tak perlu kau tanyakan itu, sebab kau pun tau. Perihal siapakah kiranya, tentu dirimu.
            Rinduku, begitu dalam saat jauh, padamu tentu. Tak perlu pula ku ibaratkan bagai palung laut terdalam sebab ia jauh lebih dalam. Begitu memuncak saat berjumpa, denganmu tentu. Tak perlu pula ku ibaratkan bagai puncak tertinggi di bumi ini sebab ia jauh lebih tinggi.
Betapa aku ingin memelukmu, seperti kau memelukku diwaktu kecilku…
            Suatu ketika teringat olehku, lirik-lirik lagu itu, Bunda Piara. Sejenak membuatku terdiam, mengingat tak pernah aku memelukmu, atau mungkin lupa. Apa pernah Ma? Ah, mungkin saja. Namun, apa kau tau lagu itu? Mungkin, mungkin saja. Lagu yang indah, begitu ingin kunyanyiakan,
Waktu ku kecil hidupku amatlah senang
Senang dipangku, dipangku dipeluknya
Serta dicium, dicium dimanjakan
Namanya kesayangan
            Namanya kesayangan, Ma. Indah kan Ma? Tapi, aku tau, lagu itu tak seindah lagu pertama yang kunyanyikan untukmu. Lagu, oh lagu, aku bahkan tak mengira tangisan pertamaku adalah lagu terindah yang membuat senyummu merekah, obat penyembuh setelah sesaat yang lalu kau bisa mengakhiri kisah. Lagi senyummu merekah, pertanda begitu bahagianya.
            Dulu, kau dekap, kau peluk, kau pangku aku. Erat. Hangat. Penuh cinta. Kini tak lagi bisa, sebab kini ku telah dewasa. Sebab, anak lelaki tak boleh dimanja. Aku pun tau. Segala sebab-sebab itu.
            Betapa aku ingin memelukmu, seperti kau memelukku diwaktu kecilku. Sungguh, tapi apalah, kau pun tau anakmu ini pemalu. Peluk aku. Walau bukan dengan dekapan melainkan harapan, berjuta teruntuk impian. Maka nanti jika Allah mengijinkan, kan kupeluk dirimu dengan pencapaian, erat sekali. Hangat sekali.
Kasihmu tiada tara, tak terhingga sepanjang masa…
 Sepanjang kata-kata ini mengalir, membentuk untian panjang ungkapan kecintaan. Ungkapan kerinduan, mendalam, menyusup kedalam relung hati terdalam. Menyeruak di bilik hati dan mengalir bersama darah ke seluruh pembuluh. Ada satu yang akan kutakan, perihal surat ini, mungkin biasa. Mungkin akan lebih romantis bila ku panggil engkau dengan panggilan Bunda, walau hanya dalam surat ini. Tapi tidak Ma, Mama, begitu panggilan yang kau ajarkan. Kau pasti tak lupa, kali pertama bibirku memanggilmu dengan sempurna, betapa bahagianya. Sebab akulah yang pertama kali memanggilmu demikian.
Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.
                                                                                                            Salam cinta dari anakmu
                                                                                                            Ananda, Fadli Hafizulhaq
           

0 comments:

Posting Komentar