Preman Itu Berpotensi Kok???



          Nongkrong di pinggir jalan, pemalakan, pembuat kerusuhan/keonaran, hal itulah yang selalu melekat pada diri seorang preman, tak ayal keberadaannya diidentikkan dengan tikus-tikus got dimana dan kapan saja selalu membawa pengaruh negatif bagi yang ada disekitarnya.
Preman (asal kata dari bahasa belanda vrijman : orang bebas atau merdeka) kata itu sering merujuk kepada sekelompok orang yang sumber penghasilannya terutama berasal dari pemerasan didalam masyarakat. Siapa saja yang dikatakan sebagai preman? Berdasarkan artikel di kompas edisi 2012, bernara sumber seorang sosiolog (Tamrin Amal Tomagola), preman dijabarkan kedalam beberapa jenis yaitu preman politik, preman sosial, dan preman ekonomi. Tentu kita kenal dengan preman politik, adalah mereka yang berekening gendut, berpolitisi di parlemen, tetapi menyalahkan kekuasaan yang dimilikinya demi kepentingan pribadi. Begitu pula dengan preman sosial tapi mereka sudah menyatu dengan ormas, dan dibidani oleh kelompok preman politik. Namun, saya akan menyinggung preman yang kekuatannya berasal dari mental dan kekuatan fisik ini alias preman ekonomi, karena hal ini menarik untuk dikuak terutama pandangan masyarakat terhadap mereka yang sebenarnya berpotensi ini.
            Sebagian orang pasti setuju kalau preman ekonomi alias orang-orang yang suka hura-hura di jalanan atau di pasar ini dimusnahkan saja karena tidak ada untungnya mereka ada, mereka hanyalah sekelompok orang yang putus sekolah dan hal-hal lain yang selalu disematkan pada diri mereka. Namun, tentu itu hanya dipandang dari satu sudut pandang saja, kebiasaan merekalah yang membuat masyarakat berpikiran seperti itu. Jika kita lihat dalam melihat potensi yang mereka miliki, tentu kita sebagai orang yang peduli turun tangan dalam membasmi dam mengubah potensi buruk mereka menjadi potensi yang berharga dimata masyarakat. Keberadaan mereka dapat dijadikan sebagai lahan jasa  yang siap menerima tantangan. Mereka yang punya keahlian dalam palak-pemalakan dapat dialihkan ke petugas keamanan, tentu pengalaman mereka dalam strategi pertahanan diri tidak diragukan lagi. Mereka yang suka hura-hura di jalanan tanpa tujuan yang jelas dapat diubah sebagai tukang antar keliling/ojek ataupun pendistributor barang, dan masih banyak lagi potensi buruk yang mereka miliki dapat disulap menjadi sebuah profesi yang mulia.
Tentu semua itu dapat terwujud kalau pandangan kita terhadap mereka diubah, sesungguhnya mereka juga punya kehidupan normal seperti biasanya, mereka menikah, dan membesarkan anak-anak mereka. Tak luput juga perhatian pemerintah dalam memberikan lapangan pekerjaan yang cocok buat menampung orang-orang dari golongan ini. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari jumlah mereka tipa tahunnya membludak, karena pengaruh seorang preman dapat memperluas kebiasaan buruknya pada orang lain disekitarnya. Untuk itu, penting bagi kita untuk menilai seseorang atau kelompok tertentu dari sudut pandang yang berbeda.
                                                             

Ditulis Oleh,

Arif Rahardi
Mechanical Engineering, Andalas University
=========================================================================
Ayo nantikan lagi tulisan tulisan kami berikutnyaa 😁😁

Syiar F27

#TakKenalLelahdalamMengajak
#SyiarMedia
#Foristek27
#SyiarF27

Media Foristek

Instagram: foristek
Facebook: Foristek Unand
Youtube: Foristek TV
Line: @xsq7322q
Website: www.foristekunand.com





0 comments:

Posting Komentar