Jika Bersamamu Aku Merasa Nyaman, Mengapa Aku Harus Sendiri?




Oleh : Nidi Annisa Riva



Analogi sebuah sapu lidi yang hanya bisa terbaring lemah jika ia masih belum berkesempatan bertemu temannya. Terbuang dan tercampak tanpa berkah dan manfaat. Nama sapu lidi lah yang menyatukan potensi mereka sehingga bisa selalu beramal jariyah terseok – seok di jalanan agar mata dapat melihat yang namanya kebersihan dan hati merasakan simfoni kenyamanan. Jika itu insan, maka yang menyatukan bukanlah hanya nama. Nama dikicaukan sebagai nilai simbolik yang memberi efek kebersamaan. Simbolik itu berpilar. Pilar ukhuwah bertajuk rindu jannah adalah modal awal yang tak boleh terkikis habis oleh waktu. 


‘’…. Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka. Tetapi, Allah swt lah yang telah menyatupadukan mereka …’’ (Qs. Al – Anfal [8] : 63). Pada dasarnya manusia itu individualis yang tak bisa hidup sendiri. Kebutuhan akan bantuan orang lain adalah sebuah hal yang tak dapat dipungkiri. Bak gagang kunci yang tak akan berguna tanpa anaknya, bak kopi yang tak akan terasa nikmat tanpa manisnya gula dan, dan ibarat mesin yang tak dapat beroperasi tanpa bahan bakarnya. Ukhuwah adalah simbiosis yang menyatakan sebuah hubungan yang diawali dengan rasa ketergantungan . 


Allah SWT melalui rasulullah menghimpun hati kaum Muhajirin dan kaum Anshar dengan rasa kelaparan akan kebersamaan dan kerinduan akan ukhuwah. Seperti Musa’b yang merasakan nikmatnya persaudaran yang didasari iman yang kuat mengalahkan persaudaaraan nasab. Baginya persaudaraan nasab seolah tiada dan tak bermakna tanpa ada aqidah yang mengikat hati melalui keyakinan yang sama. Iman yang mengikat hati dalam persaudaraan menembus ruang dan masa. Pohon keimanan yang berakar kokoh, menjulang tegar, dan mekar berbinar. Pada akar yang teguh itu diri terpaut agar tak hanyut oleh arus kebathilan. Pada batang kokoh itu diri dan jiwa bersandar dalam setiap kerja besar yang dilakukan. Di bawah dedaunannya yang rimbun diri dan hati berlindung menikmati kesejukan. Pada buahnya yang manis dan ranum jiwa berbagi, saling merasa dan mengeja kenikmatan persaudaaraan suci. 


Harun as dan Musa as bermesraan menumpas Firaun yang rakus akan kekuasaan tanpa pondasi Iman. Kebersamaan dalam suka dan duka disatukan dalam adonan brownis ketaqwaan. Mereka bermesraan di jalan-Nya dan saling menguatkan dan menegakkan kebenaran. Tantangan dan gelombang penghadang mengharuskan jari - jemari harus berpegangan terikat erat serta ruhani dan jasad harus bersinergi. Ucapan terkadang sempat menggores luka. Air mata segelintir menjadi sensasi cerita. Perdebatan menjadi dinamika dalam menentukan sebuah keputusan. Pengorbanan dan keikhlasan berkecamuk di dalam dada. Pada dasarnya, masalahlah yang mendewasakan. Pertempuran yang membuat pikiran menerawang hingga menemukan pelajaran baru yang sarat makna. Kemenangan dan kekalahan adalah hukum alam. Hasil bukanlah segalanya, tapi proses dan untuk menjaga ikatan hati akan menentukan hasilnya. 



Ada kerangka ukhuwah yang harus dibangun satu persatu sebagai solusi. Saling percaya adalah pondasi awal dan mimbar yang menjadi final sebuah bangunan cinta ukhuah. Jika diterapkan memang rumit. Titik gejolaknya ada di hati. Memaksa hati tak semudah membalik telapak tangan yang sedang kesemutan sekalipun. Perasaan yang tidak senang, prasangka menari – nari di fikiran. Tatkala hati dan fikiran bertentangan menjadi hal yang paling rumit. Namun di dalamnya tersimpan rahasia yang sarat makna. Semua akan terasa sebagai hadiah dan berkah yang tertuai ibarat badan yang ikut kegirangan meloncat – loncat ketika hanya hati yang merasakan kebahagiaan. Begitulah ukhuwah, sedih dan senang dilalui bersama. Ketika yang lain sakit, serasa ingin menggantikannya. Ketika ia senang, bibir ini pun ikut tersenyum. Ketika ada yang kekeringan, ada hujan pertolongan yang membasahi. Ketika bahu dijadikan sebagai tempat bersandar, ketika air mata berubah menjadi gelak dan tawa di saat bersama. Ketika mulut tak lagi berbicara, tapi hati telah bisa memahaminya. Ketika ada yang mengingatkan dalam ibadah dan ada teguran ketika kesalahan terbuat.  Ketika tak hanya saling mengenal (ta’aruf), tak hanya saling memahami (tafahum), tetapi sampai pada level takaful (saling menolong) di saat yang lain butuh pertolongan. 


Duhai generasi pelanjut dakwah, susun barisan mu menjadi siap tempur. Bangun solidarity value sejak dini. Peluk erat kawanmu dan tularkan semangat yang membara. Goreskan senyuman dengan ikhlas pernuh makna. Belajar saling memahami, meredam emosi dan keegoisan, mematikan amarah dengan siraman sangkaan positif. Wahai saudaraku, aku mencintai kalian karena Allah, bermodal ukhuwah dipupuk rindu jannah. Maka bersamalah, disini. Jan kucai, urang kucai ndak ka masuak sarugo.  Tetaplah disini, di jalan ini, jangan pergi, karnaku butuh kamu. Dekap aku hingga kita sampai disana. Meski hubungan kita hanya selembar benang. Karena sejatinya, tak akan ada sosok kuat jika yang lemah tidak tampil di depan mata. Perjuangan ini memang panjang, Jika bersamamu aku merasa nyaman, mengapa aku harus sendiri? 

#Foristek27
#TakKenalLelahDalamMengajak
#RumahSyiar

0 comments:

Posting Komentar