"GHULUW"



Mungkin di sekitar kita ada orang yang berjasa bagi kehidupan. Misalnya saja orangtua, guru, atau sahabat karib. Namun, terkadang tanpa sadar kita menyanjungnya secara berlebihan. .

Menyanjung secara berlebih ini dinamakan sebagai sikap ghuluw. Dan sebagai orang muslim, tak patut kita ghuluw kepada manusia dan makhluk lain.


Bahkan, nabi Muhammad saw, pun tak ingin disanjung secara berlebih oleh umatnya. Bila kita ingin menghargai perjuangan beliau, hargai dengan memperbanyak shalawat dan melaksanakan ajaran serta sunnahnya.

Sikap memuja manusia secara berlebih inilah pangkal dari kesyikiran. Pemujaan berlebih ini pula yang kemudian kaum Nasrani tersesat, ketika mereka memuji Nabi Isa as., melebihi kadar seorang nabi, bahkan menyamai derajat ketuhanan. Bila Baginda Rasul saja tak ingin dipuji berlebih, padahal beliau adalah manusia paling mulia di muka bumi ini, pantaskah kita masih mengharap disanjung oleh orang lain atas kebaikan kita? Cukuplah Allah sebagai pembalas.

Lantas, dititik mana kita pantas merasa berjasa? Sering kali justru pujian lebih mudah menjatuhkan kita daripada celaan. Orang yang sudah merasa terpuji dan terhormat akan sukit menyadari kealpaan dan mengakui kesalahan. Maka belajarlah dari orang-orang yang saleh yang tak senang dipuji berlebih, namun keistikamahan dalam kebaikannya tak perlu diragukan.

Bila ada orang yang sangat baik, berterimakasihlah kepada orang itu. Namun yang terpenting, bersyukurlah kepada Allah yang telah mendekatkan kita pada orang-orang baik. Pujilah Allah atas segala kemurahan-Nya atas kita yang penuh dosa.



Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya bagi Allah
#Liburan_Tlah_Usai
#NebeLagi
#Laporan_Again
#Syiar_Forisjet
#Foristek26

Kepo lebih lanjut soal Ghuluw? Cek Ini aja! 😀



Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”
Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.
Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”
Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

Subhaanallah… Bersyukurlah kita, Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…
***
Penulis: Abu Yazid T. Muhammad Nurdin
Artikel 
www.muslim.or.id