Hukum Mencontek

Assalamualaikum....
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Hukum mencontek dalam islam. Nah, mungkin topik ini sangat menarik sekali untuk kita bahas mengingat sekarang masih dalam suasana UAS (Ujian Akhir Semester). Kenapa menarik untuk dibahas? Hal ini karena mencontek itu ibarat 2 sisi mata uang, ada sisi positif dan sisi negatifnya. Disisi  positif, mencontek itu sama saja kita berbagi ilmu dengan orang lain (masak ia, berbagi ilmu disaat waktu ujian). Sedangkan, disisi negatifnya mencontek itu berarti sama saja dengan berbohong. Ketika kita mencontek dan hasil dari contekannya kita mendapat nilai yang baik, para guru dan orang tua memuji kita. Padahal kita tahu bahwa hasil itu kita dapatkan dengan jalan yang batil, yaitu mencontek. Coba pikir, nilai baik itu bukan berasal dari kemampuan kita, tetapi dari kreatifitas kita dalam mencontek, mencuri – curi dalam kesempitan. Apakah yang demikian ini, tidak bisa disebut berbohong atau menipu? Padahal Rasulullah sudah memperingatkan kita akan bahayanya berbohong.

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang kikir, dan orang yang tidak bertanggungjawab terhadap apa yang dimilikinya." Riwayat Tirmidzi. Ia menjadikannya dua hadits dan dalam sanadnya ada kelemahan.

Apa kita tidak ingin masuk surga ? Saya yakin pasti tidak. Satu hal lagi yang penting adalah mencontek berarti sama saja melanggar aturan dari pemimpin kita, padahal islam mengajarkan kita untuk selalu mematuhi para pemimpin.

Lalu, jika keadaan orang itu terpaksa, apakah dia diperbolehkan untuk mencontek? Apa hukumnya mencontek dengan niat untuk membahagiakan orang tua? Pertama, pertanyaan kali ini layak untuk digolongkan pertanyaan yang unik. Karena ada satu istilah mungkin membuat kita menuai tanda tanya. Mencontek karena terpaksa dan untuk membahagiakan orang tua. Sekilas nampaknya biasa, namun sejatinya pernyataan ini cukup mengherankan. Bagaimana mungkin orang bisa mencontek karena terpaksa dan untuk membahagiakan orang tua.
Makan binatang haram karena terpaksa, atau minum khamr karena terpaksa. Ini semua mungkin saja terjadi. Karena dalam kondisi yang mengancam keselamatan diri atau keluarganya, dibolehkan melakukan pelanggaran di atas, karena terpaksa.
Namun dalam kasus ujian, semacam ini tidak ada. Tidak ada ancaman ketika tidak mencontek waktu ujian. Kecuali jika ada siswa yang diancam dengan serius akan dipukuli atau bahkan dibunuh jika dia tidak mencontek. Pada kondisi ini dia boleh beralasan mencontek karena terpaksa. Dan kita sangat yakin, hampir tidak ada istilah orang diancam agar dia mencontek temannya ketika ujian.

Mencontek Dengan Niat Untuk Membahagiakan Orang Tua

Kasus yang sejatinya ada adalah tuntutan. Sebagian anak merasa tertuntut untuk berhasil dalam ujian. Dia sangat malu ketika nilai ujiannya merah atau bahkan tidak lulus. Dia merasa sangat resah, memikirkan bagaimana kesedihan orang tua dan keluarganya ketika sang anak gagal dalam ujian. Namun alasan semacam ini belum cukup untuk disebut terpaksa. Karena kita tidak diperbolehkan mengharapkan ridha orang lain dengan mengundang murka Allah ta’ala. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
            “Siapa yang mencari ridha Allah namun mengundang murka manusia maka Allah akan meridhainya dan Allah akan membuat banyak orang ridha kepadanya. Siapa yang mencari kerelaan manusia dengan mengundang murka Allah, maka Allah murka kepadanya dan Allah akan membuat banyak orang murka kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dan Sanadnya dinilai Hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).
Kedua, bahwa ijazah kelulusan bukan segalanya. Tidak pula menjamin bahwa anda akan mendapatkan kehidupan yang layak karena ijazah. Padahal kita sepakat, mencontek ketika ujian termasuk dosa besar. Karena termasuk penipuan.
Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong." Muttafaq Alaihi.
Dari hadits di atas sudah dijelaskan bahwa berbohong memang berdampak buruk, khususnya di masa – masa yang akan datang. Bagaimana tidak sekali berbohong, maka seseorang akan menutupinya dengan kebohongan yang lain. Selain itu dari sebuah kebohongan kecil seperti menconteklah lahir para koruptor – koruptor di negeri ini. Apa saudara ingin menjadikannya sebagai suri tauladan ?? Naudzubillahi min dzalik.
Selain itu mencontek sama saja mencuri. Mencuri kesempatan dalam kesempitan tepatnya, yang bermuara kepada kejelekan. Untuk itu, yakinlah bahwa rizki kita di tangan Allah. Dan Allah mampu untuk menahan rizki kita disebabkan maksiat berupa menipu yang kita lakukan ketika ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
Sesungguhnya terkadang seseorang dihalangi mendapatkan rizki disebabkan dosa yang dia lakukan. (HR. Ahmad, Ibn Hibban, Ibnu Majah dan yang lainnya).
Karena itu, bertaubatlah kepada Allah dan berjanjilah untuk bersikap jujur ketika ujian. Apapun konsekuensinya. Karena itulah hasil usaha yang mampu kita lakukan. Jika kurang memuaskan, kita bisa berusaha lebih maksimal, untuk menuju lebih baik.
Kesimpulan
 Jadi, dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa mencontek hukumnya haram. Karena mencontek sama dengan mencuri, berbohong atau menipu, dan tidak mematuhi pemimpin. Sekarang jika saudara bertanya bagaimana kalau kepepet atau tidak bisa ?. Maka jawaban adalah tawakal pada Allah dan terus berusaha serta berdo’a. tetapi jika kita tetap memaksa, maka kita dibolehkan untuk melakukannya asal kita cantumkan dalam lembar jawaban daftar pustaka dari jawaban orang yang kita contek, hehhehe….. Jadi, tetap berpegang teguh pada kebenaran, maka Allah akan membimbing kita.
Waalaikumsallam....

0 comments:

Posting Komentar