Assalamualaykum..
Sahabat-sahabat, bertepatan pada hari sabtu, 8 November lalu, BBMK foristek yang mengusung tema Engineering Islamic College (EIC) 2014 selesai dilaksanakan. Wisuda. Ya, seperti kampus pada umumnya, penutupan acara indoor dua hari lalu juga dikemas dengan konsep pewisuda-an seluruh peserta.

Mengusung tema kampus, EIC disusun menjadi empat fakultas yaitu Fakultas Multimedia, yang terdiri dari jurusan Design Grafis dan Video Editor, Fakultas Kesenian Islam dengan jurusannya nasyid dan kaligrafi, Fakultas Jurnalistik dengan jurusan karya tulis dan komunikasi, serta fakultas keputrian.

Empat pertemuan selama satu bulan mengikuti EIC rasanya memang waktu yang sangat singkat. Namun dengan kerja sama yang kuat antara panitia pelaksana, tak disangka hasil yang didapat dari agenda BBMK tahun ini sungguh luar biasa.

Sesuai dengan tujuan acaranya, BBMK (Bina Bakat Minat dan Kepemimpinan), alhamdulillah seluruh bakat, minat dan jiwa kepemimpinan para peserta terlihat sepanjang perjalanan acara ini berlangsung. Berikut adalah pencapaian atau output yang berhasil ditorehkan oleh masing-masing jurusan,

1. Jurusan Komunikasi

Sepanjang perjalanan EIC, jurusan komunikasi menghasilkan luaran mahasiswa yang tak kalah hebat. Mahasiswa jurusan ini terlihat sangat antusias mengembangkan bakat mereka, tentunya dalam hal berkomunikasi di depan umum. Mulai dari berpidato, menjadi MC hingga mengadakan debat di hadapan seluruh mahasiswa EIC


(Debat. Salah satu penampilan mahasiswa Jurusan Komunikasi)

2. Jurusan Karya Tulis

Jurusan karya tulis juga termasuk jurusan yang membanggakan. Bagaimana tidak, meski dengan pertemuan yang sangat singkat selama satu bulan, namun jurusan ini berhasil merilis sebuah buku dengan judul "THINK". Dengan tema memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi, buku ini mendapat apresiasi yang luar biasa, bukan hanya dari seluruh peserta, namun juga dari para alumni dan petinggi-petinggi mahasiswa.

"Melalui buku ini, kami ingin menyampaikan kepada seluruh mahasiswa dan pemuda Indonesia, bahwa sesungguhnya pemikiran-pemikiran segar kita sangat dibutuhkan. Yuk sama-sama kita lebih tanggap lagi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar kita, dan berusaha menjadi bagian dari pemberi solusi atas masalah itu. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.." Tukas Qori, salah satu instruktur jurusan ini.


(Cover buku "THINK", karya Jurusan Karya Tulis)


(Buku ini mendapat kesan yang baik)


3. Jurusan Seni Islam

Jurusan seni islam difokuskan pada nasyid dan kaligrafi. Tidak berbeda dengan jurusan-jurusan sebelumnya, jurusan ini juga sama hebatnya. Hal ini terlihat dari desain-desain kaligrafi yang mereka buat serta penampilan tim nasyid yang sungguh merdu. Berbagai keahlian terlihat saat tim nasyid tampil di depan seluruh mahasiswa. Ada yang benar-benar bersuara merdu, ada yang sangat ahli dalam seni beat box, ada yang bersuara bass, dan yang pasti semua tampil dengan rasa percaya diri yang luar biasa.


(Salah satu tim nasyid Jurusan Seni Islam tampil saat Wisuda)

4. Jurusan Video Editor

Digawangi oleh Rinaldi Putra Bahari sebagai instrukturnya, video-video hasil jurusan ini mampu memukau seluruh mahasiswa EIC ketika ditampilkan sewaktu wisuda. Berbagai konsep video menarik yang berhasil dibuat yaitu video nasehat tentang ajakan untuk saling memberi yang juga dikemas dengan komedi, serta video mengenai perjalanan selama mengikuti perkuliahan di Engineering Islamic College.


(Video Nasehat, salah satu output membanggakan dari Jurusan Video Editor)

5. Jurusan Design Grafis

Berbagai desain menarik dan tentunya berkualitas berhasil ditetaskan dari jurusan ini. Mulai dari desain logo masing-masing jurusan di EIC, hingga pamflet-pamflet menarik. Berikut desain-desain yang berhasil dibuat jurusan Design Grafis,


(Poster buatan jurusan desain grafis akhwat)


(Pamflet buatan jurusan desain grafis akhwat)


(Desain hand-made buatan jurusan mahasiwa desain grafis)

Nah itu tadi hasil-hasil yang berhasil ditetaskan di Engineering Islamic College tahun ini. Sebuah kebanggan bagi kami, panitia pelaksana BBMK Foristek tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan dapat jauh lebih baik dari tahun ini. Aamiin.









(Selamat diwisuda untuk yang pertama kali adik-adik..)

Jangan lupakan moment-moment indah yang kita lalui sepanjang perjalanan EIC tahun ini.. Terus asah potensi dan bakat adik-adik, :)


Mungkin sang penulis pada saat ini bukan lah orang yang terbilang sukses, itu dikarenakan penulis pada saat ini sedang dalam perjalanan mencoba untuk menjadi orang yang sukses. Tulisan ini penulis buat untuk memotivasi semua orang termasuk diri penulis sendiri untuk berjuang bersama untuk mencapai suatu kesuksesan yang hakiki.


Banyak orang yang berpendapat untuk menjadi orang yang sukses itu sangatlah susah, dan  padahal mereka belum ada mencoba untuk menjadi seorang yang sukses. Karena sebenarnya apabila mereka mencoba untuk menjadi orang yang sukses, mungkin saja dengan usaha yang mereka lakukan dapat membuahkan sebuah hasil yang tak terduga yakni suatu kesuksesan.  Karena asalkan mereka tahu bahwa kunci dari sebuah kesuksesan adalah terus mencoba, mencoba dan terus berulang kali untuk mencoba, dan belajar dari sebuah kesalahan yang lewat, maka kemungkinan orang tersebut bisa saja menjadi orang yang sukses dari segala usaha yang mereka lakukan untuk menjadi orang yang sukses.

Andaikan saja seluruh orang di muka bumi ini menanamkan kata “JUST TRY AND TRY” dalam diri mereka, mungkin tidak ada lagi orang yang terbilang tidak sukses di muka bumi ini. Karena hak untuk sukses ini tidak bisa di ganggu gugat oleh orang lain, dan akan selalu menjadi takdir dalam dirinya sendiri untuk mencapai kesuksesan, karena semua orang diberi kesempatan yang sama untuk membuat diri mereka sukses, karena masing-masing individu memiliki kemampuan yang unik, yang tidak dimiliki orang lain, yang dengan kemampuan unik ini kemungkinan dia bisa mencapai sebuah kesuksesan.

Janganlah malu apabila diri kita mengalami sebuah kegagalan, jangan takut di hujat apabila kita mengalami kejatuhan dari usaha yang kita lakukan. Karena orang-orang yang menghina dan menghujat kita tersebut pada akhirnya akan menghargai apa yang telah susah payah kita buat, karena insyaAllah semua apa yang kita ciptakan bisa menghasilkan sebuah karya yang berguna bagi mereka yang pada awalnya menghujat perjuangan kita. Intinya, tanamkan pada diri kita bahwasanya kegagalan dan kejatuhan adalah sebuah kebangkitan dan keberhasilan dari diri kita.

Jangan pernah minder apabila pada masa lalu prestasi kita pernah memburuk. Karena ingatlah bahwa Isaac Newton sang pencetus teori gravitasi pernah di masa lampaunya, yakni pada masa Sekolah Dasar nilainya sempat sangat buruk, sampai-sampai gurunya kebingungan untuk memperbaiki nilainya yang buruk. Jangan malu apabila kita mengalami sebuah autisme, karena ingatlah bahwa ilmuan sang pencetus teori relativitas yakni Albert Einsten pernah mengalami keterlambatan dalam hal berbicara, bahkan dia di diagnosis mengalami gejala autisme.

Jangan menutup diri dan pesimis bahwa kita tidak akan sukses karena mengalami suatu cacat mental, karena sang pencipta lampu pijar yaitu Thomas Alpha Edison adalah seorang yang cacat mental, dia adalah seorang yang tuli, dan hanya bersekolah selama 3 bulan. Namun dengan keterbatasan yang dia miliki Thomas Alpha Edison, setelah mengalami 9.999 kali kegegalan, akhirnya namanya dapat terukir di buku bacaan kita bahwa beliaulah sang pencipta lampu pijar.


Pada saat keberhasilannya, Thomas Alpha Edison pernah ditanya “Apa kunci kesuksesannya?” Thomas Alpha Edison menjawab, “SAYA SUKSES KARENA SAYA TELAH KEHABISAN APA YANG DISEBUT DENGAN KEGAGALAN”, bahkan ketika dia ditanya “Apakah dia tidak bosan dengan kegagalan yang terus dia alami?”, ia hanya menjawab “DENGAN KEGAGALAN ITU, MALAH SAYA MENGETAHUI RIBUAN CARA AGAR LAMPU TIDAK MENYALA”. Itulah mungkin kata motivasi yang dapat kita tangkap dari seorang ilmuan yang pada mulanya dianggap idiot di bangku sekolahnya, yakni Thomas Alpha Edison.

Mark Zuckenberg (CEO Facebook)
Tahukah anda?? Usia tidak menentukan titik kesuksesan dari seseorang, karena sang milliarder Mark Zuckerbeck adalah sang miliarder muda, yang ternyata beliau pernah juga mengalami sebuah kegagalan, karena Mark pernah mengalami DO (Drop Out) di bangku kuliahnya yakni di Harvard University, bukan karena sibuk di Organisasi, atau karena nilainya yang sangat buruk, akan tetapi dia di DO karena dia sibuk dengan situs jejaring sosial yang kini dia pegang sebagai CEO yakni Facebook. Tahukah anda, mengapa situs jejaring sosial facebook didominasi dengan warna biru?? Mungkin jawaban yang paling tepat dari pertanyaan ini yakni Mark Zuckenberg adalah seorang buta warna, dan warna yang paling jelas dia lihat yakni warna biru. Oleh karena itu, facebook di dominasi dengan warna biru, agar si Mark ini mudah dalam mendesain tampilan dari facebook supaya lebih menarik dan memiliki banyak peminatnya. Ini membuktikan kepada kita bahwa kekurangan yang kita miliki bisa menjadi suatu kelebihan yang begitu berguna untuk faktor kesuksesan yang akan kita peroleh.

Pelajaran yang dapat kita peroleh dari tulisan saya ini yakni janganlah kita menghujat apa yang orang lain lakukan, walaupun hal itu terlihat sungguh gila menurut kita. Mungkin mereka sedang menciptakan sebuah ciptaan yang nantinya dapat membuat kita kagum dan merasa menyesal tidak mendukung dan mensuport apa yang mereka lakukan. Pesan saya kepada pembaca, yakni janganlah takut dan malu apabila mengalami sebuah kegagalan, karena semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Karena kegagalan sendiri adalah sebuah “bumbu penyedap” dari sebuah kesuksesan, karena kesuksesan tanpa ada sebuah kegagalan, maka kesuksesan itu terasa sangat hambar dan it’s nothing. Karena proses dari sebuah kesuksesan itulah yang kita perlukan, bukan lah sekedar hasil dari kesuksesannya.

SALAM SUKSES !!!



Sahabat-sahabat, perjuangan Indonesia masih belum selesai. Tanggal 17 Agustus 1945, bukanlah akhir dari catatan perjuangan Indonesia. Ide yang terbangun, bahwa 17 Agustus adalah akhir dari perjuangan Indonesia, menciptakan suatu suasana yang sarat akan impotensi nasionalisme. Artinya banyak masyarakat yang berfikiran bahwa tidak ada lagi yang patut diperangi atau diperjuangkan sehingga ini menjadi degradasi terhadap semangat nasionalisme.

Dari terciptanya suatu suasana yang tiada patut dipertahankan, atau bahkan dibanggakan, menjadikan masyarakat terutama kaum remaja malas untuk menelaah ulang sejarah perjuangan Indonesia. Hal ini seakan-akan memutus warisan semangat yang seharusnya dapat ditransformasikan melalui wacana sejarah. Banyak dari kaum muda dan kaum tua yang melupakan jasa-jasa pahlawan kita, atau mungkin tidak mengetahui sama sekali. sehingga umumnya pada masyarakat menjadi kebingungan apa yang harus diperjuangkan. Sampai akhirnya perjuangan itu hanya untuk memperjuangkan kepentingan individu.

Banyak terjadi kasus korupsi, pelecehan, penyiksaan, perampokan, dan penipuan. Adalah akibat dari pelestarian wacana-wacana sejarah yang tidak tuntas. Mungkin ini menjadi kesalahan pendidikan, dan mungkin saja tidak. Karena apapun itu terkait pengetahuan, arahan, dan kewajiban yang telah diperoleh dari proses pembelajaran nantinya ditentukan oleh kemauman dan minat pribadi. Maka setiap lini menjadi faktor yang memungkinkan terjadinya persoalan demikian.

Persoalan awal hanya sejarah yang terlupakan ini tidak cepat tersadari oleh pemimpin bangsa dan umumnya masyarakat Indonesia, berdampak pada persoalan negara, agama, sosial, dan ekonomi yang sangat kompleks. Kekompleksitasan persoalan itu dapat kita simak memalui kasus-kasus yang sering diberitakan, seperti korupsi yang sudah tidak henti-hentinya menjadi sajian setiap hari yang menyeret sederatan nama, seperti Ratu Atut, Nazaruddin, Anjie, Anas Urbaningrum, bahkan anak kandung SBY, Ibas juga tersebut manjadi pelaku korupsi. Persoalan dalam ekonomi, yaitu Minimnya produksi pertanian, peternakan, industri, kerajinan, dan pasar. Persoalan banjir yang bahkan telah menjadi bencana tahunan. Kesemuanya adalah imbas dari lemahnya transformasi ideologi, dan sejarah yang seharusnya dapat tertanam dalam di hati dan fikiran kita.

Lebih jelas lagi, persoalan di negara kita ini terletak pada “krisis kepemimpinan”. Sudah jarang sekali ditemukan pemimpin yang memang benar-benar idealis. Hampir bisa dipastikan setiap orang-orang yang menduduki jabatan di parlemen tidak berangkat atas asumsinya pribadi “bahwa untuk memperjuangkan rakyat”. Tapi sudah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan pihak lain. Dalam artiyan terciptanya suasana saling menguntungkan. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan seperti kalangan masyarakat kelas bawah, karena berangkat untuk kepentingan pribadi yang musti tidak sama antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum. Kemiskinan dan pengangguran yang membludak adalah akibat dari konspirasi dari kepentingan pihak elit.

Sebuah penantian Tokoh (Revolusioner) baru…

Kita kehilangan sosok-sosok berpengaruh di negara kita, yang menjadi bahan refrensi berkebangsaan. Seperti sosok Abdurrahman Wahid yang memiliki toleransi tinggi terhadap antar etnis, hingga ia dijuluki Guru Bangsa. Dan lagi, seperti sosok Tan Malaka yang terlupakan, ia seorang revolusioner yang namanya sangat gandrung di kancah perjuangan perebutan kemerdekaan saat itu.

Kedua tokoh itu sangat idealis. Mereka tahu betul alur sejarah ke-Indonesiaan dan nantinya berorientasi ke arah mana. Dan keduanya sangat populer di zamannya. Mungkin Tan Malaka sudah tidak begitu tersorot oleh pengetahuan kita. Namun yang masih tersohor Gus Dur (sebutan, Abdurrahman Wahid) sampai saat ini. Kiprahnya dalam bidang intelektual, keagamaan, politik, dan sosial sangat berpengaruh bagi Indonesia. Tidak dipungkiri Tan Malaka juga mempunyai sumbangsih besar bagi Indonesia. Ia yang dahulu sempat digadang-gadang menjadi presiden pertama Indonesia itu mempunyai beberapa buku, yang dimana buku-buku itu hampir mewakili isi pemikirannya dalam berkiprah memperjuangkan kemerdekaan. Diantaranya, MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika), kemudian GERPOLEK (Gerilya, Politik, dan Ekonomi). Begitupun dengan Gus Dur, mempunyai sederatan buku yang dimana, buku itu lahir dari persoalan yang melanda negara kita. Buku-buku itu seperti Tuhan Tidak Perlu Dibela, dan Islamku, Islam Kamu, Islam Kita.

Keidealisan mereka tentu akan berdampak signifikan. Dampak tersebut menimbulkan berbagai kecaman dari banyak kalangan, seperti pihak militer atau oposisi politik. Ini hal yang wajar, karena ketika suatu kebenaran harus terlontar, maka kepahitan yang terasa. Ini tidak dipungkiri. Seperti saat Gus Dur mengungkap terang bahwa DPR hanya sekumpulan anak-anak TK (Taman Kanak-kanak), serentak Gus Dur mendapat serangan dari pihak-pihak yang menganggap dirinya itu “oposisi”. Begitupun Tan Malaka yang mendapat intimidasi dari kalangan militer sampai pada akhirnya ia meninggal di Kediri, yang diduga karena dibunuh.

Ini sekedar sempel dari penokohan seorang idealis yang memperjuangkan kebenaran demi kemaslahatan bersama. Gerakan-gerakan seperti ini yang senantiasa dicari-cari untuk kemudian digadang-gadang akan adanya perubahan., dan terlebih penting munculnya orang-orang yang berjiwa idealis, Nasionalis, dan Religius.

Perlunya Sosok Idealis, Nasionalis, dan Religius. Pada Zaman Sekarang

Ada sosok idealis, dan nasionalis seperti Tan Malaka, ada sosok idealis, dan religius seperti Gus Dur, dan ada pula sosok idealis, nasionlis, dan religius seperti Ir. Sukarno yang belum sempat saya paparkan di atas. Kenapa dapat dikatakan Ir. Sukarno mempunyai jiwa ketiga-tiganya itu. Indikasi itu berangkat dari faktor pemikirannya yang tercetus dari buku agung Di Bawah Bendera Revolusi, di sub bab NASAKOM (Nasionalis, Agamis, dan Komunis).

Pemikiran Ir. Sukarno terhadap NASAKOM berangkat dari asumsi, bahwa rakyat Indonesia berangkat dari tiga nilai dominan. Nilai-nilai itu seperti nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Akhirnya, oleh Ir. Sukarno diringkas menjadi satu wadah pemikiran NASAKOM. Harapan dari pemikiran itu, mampu mengakomodir pergerakan masyarakat secara keseluruhan yang heterogen ini.

Demikian Ir. Sukarno, Gus Dur, dan Tan Malaka, yang pada eranya menjadi pimpinan pergerakan alur negara. Dengan berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, maka perlu adanya sosok penerus perjuangan pahlawan yang dikedepankan di garda depan revolusi Indonesia. Karena perjuangan belum berakhir.

Perang Belum Berakhir…

Sahabar-sahabat, perlu kita ketahui, bahwasanya perang belum berakhir. Mengaca pada persaingan politik, ekonomi, militer, sosial, kultur global. Maka perang yang senantiasa kita nisbahkan pada benturan antar fisik dan saling melukai, sudah tidak lagi berlaku pada era saat ini. Perang yang terjadi bisa dikatakan lebih sadis  dari pada perang-perang terdahulu.

Satu contoh kecil perihal ekonomi, banyak pasar-pasar, tani, dan nelayan yang terus ditekan ke bawah perekonomiannya. Hal ini tentu lambat laun akan mematikan daya kekuatan rakyat secara perlahan. Harga BBM yang melambung, pupuk yang langka, dan konsumen yang mulai tidak meminati pasar tradisional. Adalah bukti dari imbas perang saat ini. Sistematika prosedur perekonomian yang tidak menyejahterakan dan menguntungkan sebagian golongan menjadi salah satu persoalan dari perang global.

Lebih dari itu, dalam persoalan pendidikan. Indonesia mengalami berbagai degradasi diberbagai sektor pengembangan  pengetahuan, pembelajaran, dan pendidikan (karakter). Banyak siswa yang menganggap sekolah hanya sebagai persoalan formalitas untuk persiapan hidup, guru-guru lebih mencari keuntungan nominal daripada mengabdi, dan sudah jarang figur yang mampu mengakomodir berbagai karakter untuk diarahkan dalam satusuri taudalan mulia. Demikian tadi juga tergolong indikasi dari perang global yang sarat akan untung rugi.
Mengaca keadaan demikian, dibutuhkan jiwa yang siap mental, dan intelektual untuk melawan balik perang global tersebut. Jika tidak demikian, maka sedikit demi sedikit bangsa ini akan mengalami kehancuran.

Jangan menunggu, kita figurnya

Selalu kita berdoa selepas beribadah, memohon kepada-Nya agar negara tetap diberikan kemakmuran, dan nanti ada satu figur yang menjadi pemimpin rakyat yang patut dicontoh.
Kemakmuran, dan pengfiguran itu bukan lagi angan-angan yang belasan tahun kemudian baru terwujud. Tapi tindakan nyata dari kita mulai sekarang. Ini penting kita sadari, bahwa sedapat mungkin kita harus sadar bahwa negara tengah mengalami krisis besar. Yang krisis itu sudah sangat kompleks, sampai kita menganggap hal biasa. Adanya korupsi tak henti-henti, pastilah menimbulkan asumsi bahwa fenomena demikian sudah menjadi hal biasa. Artinya sudah tidak lagi perlu dipersoalkan. Hanya menjadi regulasi silogism, ada kasus ada tindakan hukum. Selalu itu yang bergulir. Tanpa adanya siasat besar untuk menghentikan atau meminimalisir korupsi. Korupsi hanya contoh persoalan yang harus kita selesaikan, dan masih banyak lagi persoalan. Sejatinya ini menjadi penggugah bagi kita semua, para pemuda untuk terus menanamkan semangat kebangsaan didalam jiwa kita, apa yang kita rasakan saat ini merupakan pelajaran mahal dan ibrahnya merupakan acuan penataan masa depan bangsa yang kelak kita pikul. Jadi, Idealis, Nasionalis, Religius. Jangan menunggu, Make it Yours!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa kabarnya ikhwah fillah?
Saya harap baik-baik saja.

Oh ya, sebentar lagi tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2014 kita para kaum muslimin akan memasuki tanggal 1 Muharram 1436 H. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad s.a.w. Hijrahnya beliau yaitu dari Mekah ke Madinah, hijrah beliau ini bisa kita analogikan menjadi hijrah kita umat Nabi Muhammad yakni dari perkara yang batil menuju perkara yang hak.

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Sebagian mereka berpikiran: Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Jika kekeliruan dalam menyambut tahun baru Hijriah ini tetap kita lakukan, maka kita akan menanggung dosa atas kekeliruan kita tersebut. Walaupun perbuatan itu baik menurut pandangan kita, belum tentu menurut pandangan Allah itu baik. Untuk itu, para ulama menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.

Sejauh yang saya ketahui, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Berikut adalah 5 amalan keliru dalam menyambut awal tahun Hijriyah:

Kekeliruan pertama: Menjadikan tanggal 1 bulan Muharram sebagai hari raya kaum Muslimin.
Perayaan ini sebenarnya tidak ada tuntunannya, dimana oleh para ulama dianggap sebagai perbuatan laughi (melalaikan). Mereka merayakannya dengan cara saling berkunjung satu dengan yang lainnya, atau saling memberikan hadiah satu dengan yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka mengadakan sholat tahajud dan doa’-do’a khusus pada malam tahun baru.  Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Hal itu sesuai dengan hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata : “Rasulullah saw datang ke kota Madinah, pada waktu itu penduduk Madinah merayakan dua hari tertentu, maka Rasulullah saw bertanya: Dua hari ini apa ? Mereka menjawab: “Ini adalah dua hari, dimana kami pernah merayakannya pada masa Jahiliyah. Maka Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dengan yan lebih baik: yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai )

Begitu juga, merayakan tahun baru adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kaum Muslimin diperintahkan untuk menjauhi dari kebiasaan tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Musa Al Asy’ari bahwasanya ia berkata :
“Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”

Kekeliruan kedua: Menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi hari berkabung
Sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah. Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Bahkan sejak Syah Ismail Safawi menguasai wilayah Iran, dia telah mengumumkan bahwa hari berkabung nasional berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada tanggal 10 hari pertama bulan Muharram. Ritual meratapai kematian Husen ini dilakukan dengan memukul tangan-tangan mereka ke dada, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyabet badan mereka dengan pisau dan pedang hingga keluar darahnya, dan sebagian yang lain melukai badan mereka dengan rantai.

Kekeliruan Ketiga: Menjadikan malam 1 Muharram untuk memburu berkah
Dengan berbondong-bondong menuju kota Solo dan menyaksikan ritual kirab dan pelepasan kerbau bule, yang kemudian mereka berebut mengambil kotorannya, yang menurut keyakinan mereka bisa menyebabkan larisnya dagangan dan membawa berkah di dalam kehidupan mereka. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan syirik dan bid’ah dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.

Kekeliruan Keempat: Puasa Awal dan Akhir Tahun.
Sebagian orang ada yang mengkhususkan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini: “Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”
Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas?
!  Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
!  Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatakan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
!  Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Kekeliruan Kelima: Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta
Perayaan ini biasanya dilakukan kaum muslimin dengan cara menyalakan kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

KESIMPULAN
Diantara beberapa perkara yang salah dalam menyambut bulan Hijriah yang saya sampaikan tadi, mungkin dapat kita tarik sebuah kesimpulan yakni dalam menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian. Dengan pergantian tahun ini, menyadarkan diri kita bahwa kita hidup di dunia ini sangat lah singkat seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur'an yang berbunyi 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ   اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [٥٩:١٨]
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr [59] : 18)
Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi).

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.” (Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi).

Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya. Namun sudahkah kita mencintai dan menggunakan kalender hijriyah, itulah yang harus kita ingat baik-baik pada saat ini. Marilah kita menggunakan kalender hijriyah dalam setiap aktifitas kita sehari-hari. Itulah yang mulai dilupakan kaum muslimin di pada tahun Hijriah ini. Pasti di antara kita ada yang tidak tahu tanggal lahir dia sendiri menurut tahun Hijriah.

Wassalamualaikum wr.wb.

Assalamu'alaykum..

Sahabat-sahabat semua..Semoga Allah senantiasa menjaga dan merahmati setiap langkah kita.
Sebentar lagi, tepatnya pada hari sabtu, 25 Oktober 2014 kita akan memasuki tahun baru islam 1436 H, yang menandakan bahwa sudah 1435 tahun lebih perjalanan hijrahnya rasulullah SAW berlalu. Jika kita menyadari, pada dasarnya peristiwa hijrah ini memiliki makna yang sangat dalam dan mendasar yaitu tentang upaya mengaktualisasikan nilai-nilai islam untuk memisahkan yang haq' dan yang bathil, hijrah dari kezhaliman menuju kasih sayang, hijrah dari kemunafikan menuju ketaatan kepada Allah SWT.

Awal dari hijrahnya kenabian ini bertujuan untuk keluar dari belenggu masyarakat Jahiliyah dan berbagai unsur budayanya pada masa itu dan menuju kepada berdirinya Negara Islam di Madinah Munawwarah. Dari awal hijrah inilah menjadi ujung tombak terbentuknya sejarah Hijriyah yang dikenal dengan “Taqwim Hijrie; penanggalan Hijriyah atau tahun hijriyah” di kalangan umat Islam, yang berawal dari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Yatsrib yang akhirnya nama ini berubah menjadi nama Madinah Almunawwarah. Makna Hijrah dan keutamaan hijrah yang Allah Swt gambarkan dalam Alqur’an diantaranya sebagai berikut,

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Albaqarah [2] : 218)

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (ال عمران  [3] : 195)

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): 
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali Imran [3] : 195)

Dari ayat-ayat Alqur’an di atas makna hijrah mengandung interpretasi  yang begitu luas baik secara ruhiyah, bathiniyah maupun lahiriyah, baik secara mikro maupun makro. Tahun baru hijriyah atau makna dari kata “Hijrah” itu sendiri merupakan momentum bagi kaum Muslimin untuk terus mampu dalam berkreasi, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menciptakan birokrasi yang modern, transparan, rapi dan bersih, membangun dan menegakkan keadilan hukum yang tegas dan berwibawa, kemajuan diberbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, industri, informasi, tekhnologi, meliter, dlsb menuju peradaban sebuah negara yang aman, sejahtera dan makmur yang mampu bersaing dengan negara lain secara terhormat dan beradab untuk membangun kemaslahatan umat manusia diseluruh dunia.

Keutamaan Bulan Haram dan Muharram

Dari Abu Bakar r.a, bahwa Rasulullah berkhotbah ketika beliau melaksanakan haji, beliau berkata: ketahuilah bahwa zaman itu akan terus berputar seperti bentuknya. Hari menciptakan Allah Swt pada langit dan bumi itu dalam setahun sebanyak 12 bulan diantaranya ada 4 bulan Haram, 3 yang berturutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram sedangkan bulan Rajab dihimpit antara bulan Jumadi (Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir) dan bulan Sya’ban.( HR. Bukhari- Muslim)

Pada bulan-bula Haram diharamkan berperang terkecuali jika diperangi, maka boleh melawan mempertahankan diri untuk berperang. Sebagaimana Allah Swt befirman,

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. Attaubah [9] : 36)

Keutamaan diantara bulan haram, yaitu pada bulan Muharram disunnahkan berpuasa sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

“Dari Ibnu Abbas r.a bahwa ketika Rasulullah Saw di Madinah berjumpa kepada orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asura. Rasulullah Saw berkata kepada mereka: Hari ini hari apa, kenapa kalian berpuasa pada hari ini? Mereka (orang Yahudi) berkata: Hari ini adalah hari agung, dimana Allah Swt telah menyelamatkan Musa dan umatnya, dan Allah tenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya, pada hari ini Musa berpuasa karena kesyukurannya tersebut, oleh karena itulah kami juga (orang Yahudi) melakukan puasa pada hari ini (hari ‘Asyura). Berkata Rasulullah Saw: Maka kamilah yang lebih berhak terhadap Musa daripada kamu sekalian (orang Yahudi), maka Rasulullah Saw berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (pada hari ‘Asyura) ” (HR. Bukhari Muslim)

Keutamaan lain puasa ‘Asyura, bahwa Allah Swt menghapuskan dosa-dosa hambanya setahun yang lalu. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

“Dari Abu Qatadah, ada seseorang bertanya kepada Nabi Saw tentang puasa ‘Asyura (10 Muharram) Sesungguhnya (kelebihan bagi orang tang berpuasa ‘Asyura) adalah Allah Swt menghapuskan dosanya satu tahun yang lalu ” (HR. Muslim)

Yuk kita berbenah

Kembali kepada masalah introspeksi diri dalam menyambut tahun baru hijriah, adalah menjadi hal yang utama bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat, penilaian dan penimbanagan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita. Tapi itu semua dilakukan untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita lakukan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggung jawaban. Sebab dan terkadang manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan mebahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh ditempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-lang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi ditempat yang sama.

Ada satu sabda nabi yang mengutarakan tentang perbuatan yang tercela, adalah sebagai berikut : Artinya : Tanda kecelakaan itu ada empat:

1. Tidak mengingat ingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan disisi Allah SWT .
2. Menyebut nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan kebaikan itu diterima atau ditolak.
3. Memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi.
4. Memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama. Allah SWT berfirman, aku menghendaki dia sedang dia tidak menhendaki diriku, maka dia aku tinggalkan Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang kholiq. Akan tetapi Allah SWT , maha bijaksana, sehingga ia tidak menghendaki hamba-hambanya terjerumus dalan kehancuran. Akan tetapi Allah SWT memberikan tuntunan hidup yang berupa agama Islam, yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. 
(HR. Ahmad)

Adalah suatu tindakan yang bijak, jika manusia berbuat salah kemudian ia sadar dan memperbaiki kesalahannya dengan berbuat amalan yang baik dengan komitmen tidak akan mengulangi kesalahannya itu. Sahabat-sahabat, mengawali tahun baru 1436 Hijriah ini, yuk kembali kita koreksi diri kita..Mari bersama-sama kita mengubah diri, hijrah secara total karena Allah SWT.

(Disadur dari berbagai sumber)

Assalamualaykum...
Sahabat-sahabat muslim semua, sebelumnya kami dari FORISTEK UNAND mengucapkan selamat merayakan hari raya Idul Adha 1435 H. ^_^
Nah, sahabat-sahabat semua, berbicara tentang hari raya Idul Adha, tentunya identik dengan qurban. Kali ini kita punya artikel keren nih buat sahabat-sahabat muslim semua, dan insya Allah akan membuat kita semakin cinta dengan agama kita, islam. Yuk cekidot..
Sobat, karena saking penasarannya dengan cara umat muslim ketika menyembelih hewan, baru-baru ini sejumlah peneliti dari benua biru mencoba membandingkan yang mana sih yang paling baik? menyembelih hewan dengan metode umat islam atau kah metode yang selama ini mereka gunakan? Dan ternyata hasil yang mereka dapatkan menunjukan jawaban yang mengejutkan. Ternyata binatang yang disembelih sesuai syariat islam tidak merasakan sakit sama sekali.
Penelitian ini dilakukan oleh dua orang staff peternakan dari Hannover University, sebuah Universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof Wilhelm Schulze dan koleganya Dr. Hazim , keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan :
Manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit ??
1. Menyembelih secara syariat islam yang murni/menggunakan pisau tajam (tanpa proses pemingsanan)?
2. Menyembelih dengan cara barat dengan pemingsanan / dipukul kepalanya?
Keduanya merancang penelitian sangat canggih, menggunakan sekelompok sapi yang cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elekroda (microchip) yang disebut Electro Encephalograph (EEG). EEG dipasang dipermukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit ketika disembelih. Dijantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG yang telah terpasang ditubuhnya selama beberapa minggu, setelah adaptasi dianggap cukup maka separuh sapi disembelih sesuai syariat islam yang murni, dan sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi barat.
Dalam syariat islam penyembelihan dilakukan dengan pisau yang tajam, dengan memotong 3 saluran pada leher, yaitu : saluran makan, saluran napas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis & vena jugularis. Syariat Islam tidak merekomendasikan metode pemingsanan, sebaliknya metode barat justru mengajarkan bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih. Dari hasil penelitian prof Schultz & Dr Hazim di Hannover University Jerman dapat diperoleh kesimpulan bahwa :
Penyembelihan menurut syariat islam/menggunakan pisau tajam menunjukan :
Pertama : Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus) tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG, hal ini berarti pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua : pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yg sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak), hingga sapi2 itu benar-benar kehilangan kesadaran Pada saat tersebut tercatat pula ECG bahwa jantung mulai meningkatkan aktivitasnya.
Ketiga : Setelah 6 detik pertama ECG pada jantung merekam adanya aktifitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar.
Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yg terputus dibagian leher, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampe zero level (angka nol) Hal ini diterjemah oleh kedua ahli itu bahwa "No Feeling of pain at all !" (tidak ada rasa sakit sama sekali).
Keempat : Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan "healthy meat" (daging yg sehat).
Jenis daging dari hasil sembelih semacam ini sangat sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.
Secara Pemingsanan / Dibius / disetrum / dipukul kepalanya cara Barat :
Pertama : Setelah dilakukan proses Stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh & collaps (roboh), setelah itu sapi tidak bergerak lagi, sehingga mudah dikendalikan, Oleh karena itu sapi dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit. Pada saat disembelih darah yang keluar hanya sedikit tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan)
Kedua : Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG.. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan). Media pemingsanan yg digunakan : Setrum, bius, maupun dengan cara yang mereka anggap paling baik memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu pula. Alat yang digunakan adalah Captive Bolt Pistol (CBV)
Ketiga : grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop kebatas paling bawah, akibatnya jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
Keempat : Karena darah tidak tertarik & tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itupun membeku di dalam urat / pembuluh darah dalam daging sehingga dihasilkan "unhealthy meat" (daging yang tidak sehat) dengan demikian menjadi tidak layak dikonsumsi oleh manusia.
Timbunan darah beku yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih merupakan tempat atau media sangat baik bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yg dapat merusak kwalitas daging.
Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukannya ekspresi rasa sakit. Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya. Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit & nyeri, terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar.
Hasil penelitian Prof Schultz dan Dr Hazim justru membuktikan sebaliknya. Yakni pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah "menyentuh" saraf rasa sakit.
Oleh karena itu, keduanya menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekpresi rasa sakit, melainkan sebagai ekpresi 'keterkejutan otot dan saraf' saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras), mengapa demikian? hal ini tentulah tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena EEG tidak membuktikan, juga tidak menunjukan adanya rasa sakit.
Nah, jelas bukan, bahwa secara ilmiah ternyata penyembelihan secara syariat Islam ternyata lebih maslahat. Apalagi ditambah dengan anjuran untuk menajamkan pisau untuk mengurangi rasa sakit hewan sembelihan.
Sabda Nabi "Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelih."
Sekian dulu semoga bermanfaat Wassalamuallaikum Warahmatullahi Wabarokatuh... ^_^

Artikel ini disadur dari saudara kita Syabul Ghozi Dachlan, Mahasiswa Kedokteran Hewan, Jawa Timur.