kesalahan yang sering "terlaksanakan" dalam sholat Jum'at

wah?? rasanya saya bener sholatnya?? rasanya g ada yang salah waktu saya sholat jum'at??
yah mungkin itulah yang terpikir di benak kita ketika membaca judul artikel ini.
naah,, mari kita cari tahu apa saja "kesalahan" yang sering "terlaksanakan" oleh kita waktu melaksanakan sholat jum'at...

1. MENGULUR WAKTU DATANG KE MASJID SEHINGGA KHATIB NAIK MIMBAR

Di antara kita, ada yang berlambat-lambat ketika mendatangi shalat Jum’at sehingga khatib naik mimbar. 
"ntar lagi dah, masih nanggung nih"
"5 menit lagi ajaa"
"masih jam 1 kurang 15 kok, masih ada waktu"
???????????????????????????????????????
Padahal dengan demikian itu kita telah kehilangan banyak kebaikan serta pahala yang melimpah.

Di dalam ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim) disebutkan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda


“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur. Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah.”



Maksudnya, para Malaikat itu menutup lembaran catatan pahala bagi mereka yang terlambat

sehingga tidak mendapatkan pahala yang lebih bagi orang-orang yang masuk masjid (di saat khatib sudah naik mimbar). Pengertian tersebut diperkuat oleh hadits berikut ini:

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani. Dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Pada hari Jum’at para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid yang bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka mencatat orang-orang (yang datang untuk shalat), di mana jika imam (khatib) telah datang menuju ke mimbar, maka lembaran-lembaran catatan itu akan ditutup.” 

Lalu kutanyakan, “Hai Abu Umamah, kalau begitu bukankah orang yang datang setelah naiknya khatib ke mimbar berarti tidak ada Jum’at baginya?” Dia menjawab, “Benar, tetapi bukan bagi orang yang telah dicatat di dalam lembaran-lembaran catatan.”

naah, kalo udah gini mah "lebih cepat lebih baik" :)


2. TIDAK MANDI, TIDAK PULA MEMAKAI WANGI-WANGIAN, DAN TIDAK BERSIWAK PADA HARI JUM’AT 

Di antara kita lagi, ada juga yang mengabaikan masalah mandi dan memakai wangi-wangian pada hari Jum’at. Padahal Islam menghendaki kaum muslimin supaya berkumpul pada hari Jum’at pada pertemuan mingguan dalam keadaan sesempurna mungkin, berpenampilan paling baik, serta memakai wangi-wangian yang paling wangi sehingga orang lain tidak terganggu oleh bau yang tidak sedap. Serta tidak juga mengganggu para Malaikat.

Di dalam kitab ash-Shahiihain disebutkan, dari Abu Bakar bin al-Munkadir, dia berkata, ‘Amr bin Sulaim al-Anshari pernah memberitahuku, dia berkata, Aku bersaksi atas Abu Sa’id yang mengatakan, Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 


“Mandi pada hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. Dan hendaklah dia menyikat gigi serta memakai wewangian jika punya.”


Di dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga disebutkan, dari Salman al-Farisi, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi di rumahnya kemudian keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang (dalam shaff) kemudian mengerjakan shalat dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara) jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya (atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang berikut-nya.”


mandi dulu makanya brooh, agar kita ketemu dengan saudara kita dengan keadaan yang paling baik.


3. ORANG YANG MASUK KE MASJID BERDIRI DAN MENUNGGU SAMPAI ADZAN SELESAI DIKUMANDANGKAN, BARU KEMUDIAN MENGERJAKAN SHALAT TAHIYYATUL MASJID 

Ini nih, Sebagian orang jika memasuki masjid sedang khathib sudah berada di atas mimbar dan muadzin masih mengumandangkan adzan maka dia akan tetap berdiri sambil menunggu adzan selesai. Dan ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan dan khatib menyampaikan khutbah, baru dia mulai mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid. Ini merupakan tindakan yang salah. Gini, Mendengar adzan adalah sunnah, sementara mendengar khutbah adalah wajib, sehingga yang wajib harus diutamakan. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mengabaikan yang wajib untuk menunaikan yang sunnah.

Dengan demikian, yang benar adalah memulai shalat Tahiyyatul Masjid langsung ketika sampai di masjid meskipun muadzin tengah mengumandangkan adzan agar dia bisa mendengar khutbah secara lengkap. Got it?? :)


4. MELANGKAHI PUNDAK JAMA’AH YANG DATANG LEBIH AWAL PADA HARI JUM’AT 

Di antara kita kaum muslimi kadang kan ada yang telat ke masjid, sehingga menyela jama’ah yang datang lebih awal dan duduk dengan melangkahi pundak mereka sehingga dia sampai ke barisan pertama. Dan ini jelas salah. Mestinya dia harus menempati tempat yang terakhir kali ia dapatkan.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang masuk masjid pada hari Jum’at sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khutbah, lalu dia melangkahi orang-orang, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah mengganggu (orang-orang) dan datang terlambat.”


5. BERBICARA SAAT KHUTBAH TENGAH BERLANGSUNG

Di antara jama’ah ada juga yang berbincang dengan orang secara perlahan di sekitarnya saat khutbah tengah berlangsung. Dan ini jelas salah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk diam guna mendengarkan khutbah Jum’ah dengan seksama.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, yaitu satu hadits yang diriwayatkan empat perawi dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dari Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:


“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at dan membersihkan diri, lalu cepat-cepat dan bergegas, serta berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan, juga mendekati posisi imam, kemudian mendengarkan lagi tidak lengah, maka baginya setiap langkah amalan satu tahun, dengan pahala puasa dan qiyamul lail yang ada pada tahun itu.”


Di dalam kitab ash-Shahiihain telah disebutkan dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Jika engkau mengatakan kepada temanmu, ‘Diam,’ pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, berarti engkau telah berbuat sia-sia.”

\
nah looohh.... nyuruh diem aja udah berbuat sesuatu yang sia-sia, apalagi ngobrol sepanjang khutbah...

Lalu apa hukuman bagi orang yang berbicara atau melangkahi pundak jama’ah? 

Hukumannya adalah tidak ditetapkan baginya pahala shalat Jum’at dan dia juga tidak akan mendapatkan keutamaannya, dan shalat Jum’at itu hanya akan menjadi shalat Zhuhur baginya.

Yang demikian itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah yang dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:


“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, lalu memakai minyak wangi isterinya jika dia punya, dan mengenakan pakaian yang bagus, lalu tidak melangkahi pundak orang-orang, serta tidak lengah saat diberi nasihat (khutbah), maka hal itu menjadi penghapus dosa (kecil) antara keduanya. Dan barangsiapa lengah dan melangkahi pundak orang-orang, maka shalat Jum’atnya itu menjadi shalat Zhuhur baginya. ”


gak banget dah.. -,-


gimana?? dari penjelasan diatas ada yang sering terlaksanakan oleh kita ?? sebenarnya masih banyak, tapi kalo diliat-liat itu yang sering, :D

sekarang kan udah tau tuh, kasih tau ke teman-teman yang lain juga y!
kalo bisa jangan puas sampe disini aja, cari juga info lainnya ! ^_^

wassalam


dept. syiar FORISTEK

"utama dan diandalkan"

6 komentar:

  1. yang poin no.4 itu kalau dia merangkak gmana? kan g melangkahi pundak. ya kan?
    wkwk. kidding bro

    BalasHapus
  2. afwan, sy melihat hadist bukhori dan menyatakan bahwa rasulullah menyuruh sahabat utk solat sunnah sewaktu khutbah sdg berlangsung.. bgmn ini akh?

    BalasHapus
  3. betul bro. . .
    yg di maksut dengan melangkahi pundak itu gmna ?
    kalau kita mengisi shaff yg kosong paling depan dengan masih ada ruang buat berjalan kedepan itu boleh atau tidak
    karena saya masih belum paham dengan arti melangkahi pundak tadi
    apa melangkahi pundak berarti memotong shaff
    atau itu emang benar² melangkahi pundak karna tidak ada jalan kedepan
    dan mau tidak mau harus melangkah
    tolong di jelaskan bro . . .
    penting nih buat jum'at kedepan nya

    nah satu lagi ,,
    kalau kita masih di kantor dan tidak bisa pulang
    otomatis tidak mandi
    itu gmna ?
    kan keadaan memeksa

    thq bro
    bagus bgt nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @ga dhaviel - afwan telat yah., :) melangkahi pundak itu sudah dijelaskan di atas, ya, melangkahi atau memotong barisan jemaah lain untuk sampai ke barisan paling depan. hal ini dalam kondisi "memaksa" untuk mendapat barisan paling depan. itu sepengetahuan ane ya., coba cari referensi lain (buku atau hadist).

      kalau untuk masalah mandi, itu hukumnya sunnah muakkad (bisa dibilang wajib juga), kita lihat kondisinya saja, kalau memang tidak memungkinkan untuk mandi, usahakan bersuci dengan keadaan yang paling baik.

      jawaban diatas sebatas kemampuan ilmu yang mimin miliki, harap jangan sampai puas, silahkan cari sumber ilmu sebanyak-sebanyaknya. kalau masih ada yg kurang jelas silahkan tanya, terima kasih sudah berkunjung. ^_^

      Hapus
  4. maaf gan , saya masi bingung dengan melangkahi pundak atau memotong barisan
    kalau gak salah ni gan, kan lebih baik kita merapat kan saff
    sedang kan di masjid bnyak yang posisi duduk nya tidak beraturan, nah kadang ada 1 saff yang sebenar nya masih bisa di isi untuk 2 sampai 4 org tapi tidak di isi
    dan kebanyakan org lebih milih saff di tengah dan belakang
    sampai akhir nya penuh ( penuh ke belakang ) depan masi bnyak yg kosong
    karna kondisi memaksa dan tidak ada tempat lagi apa kita bisa menganbil saff depan yg kosong tadi. karna tidak ada tempat untuk duduk lagi
    itu kan bisa di bilang memotong barisan
    dengan keadaan seperti ini gimna yang terbaik gan
    apa kita harus berdiri di luar sampai menjelang solat jum'at di laksanakan

    thq gan :)

    BalasHapus
  5. bismillah... coba jawab lagi ya., hal ini berhubungan dengan perintah rasulullah dimana kita harus menempati shaff pertama shalat jum'at ketika kita baru datang ke mesjid. hal ini berdasarkan hadist rasulullah :
    Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Seandainya orang-orang itu mengetahui apa yang terdapat pada seruan adzan dan shaff pertama kemudian mereka tidak mendapatkan jalan, kecuali harus melakukan undian, niscaya mereka akan melakukannya.” [1]

    Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:

    “Seandainya kalian atau mereka mengetahui apa yang terdapat di shaff terdepan, niscaya akan dilakukan undian.” [2]

    nah, dari situ dianggap, mereka yang mengetahui hadist ini berlomba-lomba menempati shaff pertama, dan masih ada saja orang yang berambisi menempati shaff pertama tersebut walaupun sudah penuh dan sudah sampai ke barisan belakang sehingga dilarang oleh rasulullah melangkahi pundak saudara lainnya pada hadist :
    “Dari Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang masuk masjid pada hari Jum’at sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khuthbah, lalu dia melangkahi orang-orang, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah mengganggu (orang-orang) dan datang terlambat.”

    dalam kasus yang disampaikan, Di antara jama’ah ada yang datang ke masjid lebih awal dan mendapati barisan pertama masih kosong, tetapi dia malah memilih untuk menempati barisan kedua atau ketiga agar bisa bersandar ke tiang misalnya, atau memilih barisan belakang sehingga dia bisa bersandar ke dinding misalnya. Semuanya itu bertentangan dengan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk segera menduduki barisan pertama yang didapatinya selama dia bisa sampai ke tempat tersebut, karena agungnya pahala yang ada padanya serta banyaknya keutamaan yang terkandung padanya. Dan seandainya dia tidak bisa sampai ke tempat itu kecuali dengan cara undian, maka hendaklah dia melakukan hal tersebut sehingga dia tidak kehilangan pahala yang melimpah itu.
    dan cara terbaik menurut FORISTEK disini adalah dengan datang paling awal dan langsung menempati shaff pertama shalat berjamaah dan juga membagi pengetahuan tentang pahala yang berlimpah pada shaff pertama shalat jum'at berjama'ah kepada rekan lainnya agar semakin banyak yang menyadari pahala yang besar tersebut dan tidak kita temui lagi orang yang lebih memilih duduk di tengah atau di belakang padahal ia datang lebih awal.
    afwan kalau ada yang salah dalam menjawab, semoga tidak puas dengan jawabannya dan berusaha mencari jawaban yang lebih baik lagi., ^_^

    BalasHapus