Dahsyatnya bersedekah! (pengalaman pribadi)

Assalamualaikum wr. wb.
Alkisah, (udah kayak dongeng aja.. :v)
Pada suatu siang yang cerah, ane lagi asyik bercengkrama dengan si lepi, laptop yang menemani ane selama kuliah di universitas yang (katanya) cukup terkenal ini,, tak berapa lama, terdengarlah kumandang azan yang menyeruak melewati belasan rumah dan gedung hingga sampai ke telinga ane,.. ya, waktu dzuhur telah tiba. Dengan bersegera, keyakinan penuh, matikan laptop, simpan dan bergegas menyucikan diri ke kamar mandi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar. Ane tinggal di sebuah rumah sederhana dengan belasan pemuda lainnya yang berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, ya, wisma, tempat itu kami sebut “wisma”, dan kami yang tinggal didalamnya disebut “anak wisma”. Sudah menjadi kebiasaan anak wisma, ketika mendengar suara adzan dikumandangkan untuk bersegera, bergegas, mencari tempat berwudhuk terdekat dan melangkah mengayunkan kaki dan tangan menuju rumah ibadah terdekat demi melaksanakan kewajiban yang hanya 5 kali dalam sehari itu. Sebenarnya,.
tidak hanya ane, tidak hanya rumah itu, ada beberapa rumah lagi ada puluhan pemuda lainnya yang memiliki kebiasaan yang sama, seperti mereka telah di program untuk itu. Kami memang memiliki beberapa kebiasaan yang insyaallah sesuai dengan yang diajarkan rasulullah dan diperintahkan oleh Allah SWT. Kebersamaan, memang hal yang kami nomorsatu-kan dalam menjalani kehidupan di wisma, saling mengingatkan, saling memberi.
kembali ke adzan tadi…
sayup adzan dzuhur masih terdengar kala ane masih melangkah ke arah mushalla yang cukup populer di kalangan kami anak wisma – ya karena emang itu satu-satunya mushalla terdekat.. :v –, momen-momen perjalanan kami ke mushalla kami jadikan momen bertemu ramah, bertegur sapa, bersenda gurau dengan penghuni wisma lainnya, ya, karena kesibukan masing-masing, kami jarang bertamu ke wisma lainnya. Momen-momen itulah yang dimanfaatkan sebagai obat penawar rindu saudara seteknik senasib seperjuangan. Sesampainya di mushalla, tinggal menunggu gharim mengumandangkan iqomah, diselingi dengan shalat sunnah. Iqomah dikumandangkan, salat pun dilaksanakan dengan penuh khidmat. Suasana sunyi senyap, seperti berada di sebuah padang gurun yang luas, hanya terdengar sesekali bisikan imam seperti gesekan angin dan pasir. Suasana khusyuk ini berlangsung hingga imam mengucapkan salam. Kami pun kembali menuju peraduan masing-masing. Dijalan menjelang pulang pun masih sempat bersenda gurau, menikmati waktu-waktu pertemuan yang sangat singkat itu. Seperti yang lainnya, ane pun kembali ke wisma tercinta. Tempat dimana kami membagi suka dan duka, membagi pengalaman. ditengah perjalanan, kebetulan ane se langkah dengan seorang mahasiswa baru tahun pertama nya di universitas ini. dengan senyum yang ramah, ane sapa dia, dan dia pun menyahut dengan senyum yang tak kalah hangatnya. Ya, seperti basa-basi biasa , kutanyakan keadaannya, bagaimana kuliahnya. Percakan itu berlangsung sepanjang perjalanan menuju wisma. Sampai pada pertanyaan, “kamu udah makan?”, ane tanya begitu. Dia pun, masih dengan senyum nya yang hangat menjawab “belum, da”. “udah beli sambal?', tanya ane lagi, “belum da, g punya uang”, ya, masih dengan senyumnya yang hangat. Ya mungkin terdengar seperti nada bercanda dia menjawab, namun saat itu juga terniat “aku harus belikan anak ini sambal!”. Sampai di persimpangan gang wisma, langsung ku rangkul bahunya, membelokkan arahnya (yang seharusnya kekiri), ku bawa dia ke tempat biasa kami membeli amunisi untuk mengisi perut, “lah, bali samba wak nah”, “uda yang bayarin da?”, “iya..” jawabku sekenanya, “serius da? uda bagarah c mah”, katanya, “iya..” jawabku lagi, “betul nih da?”, dengan sedikit jeda, “iya uda bagarah”, dengan sedikit tawa ane jawab pertanyaan itu. Dan sampailah kami di tempat pembelian amunisi. Langsung ku tawarkan dia untuk memilih sambal yang dia inginkan, “iko c da”, katanya menunjuk tribol yang merupakan makanan khas dan favorit anak wisma, termasuk ane. Langsung ane pesan ke ibuk, “buk, tribol duo bungkuih”, selesai membungkuskan amunisi kami, ane serahkan uang pengganti tribol yang dibungkuskan tadi. Dengan membawa bungkus amunisi masing-masing, kami kembali ke wisma, dan tak lupa sebelum berpisah dia mengucapkan terimakasih. Dalam hati, ane berbisik, “mudah-mudahan Allah ridho”…
Kehidupan pun kami lanjutkan seperti biasa, sampai pada sore harinya, hp ane bergetar, tertulis nama “papa” pada layar hp. Hanya beberapa detik, ternyata hanya misscall, terbesit rasa khawatir, karena tak biasanya papa seperti itu, “ada apa gerangan? apakah terjadi sesuatu? “ namun ane tetap berpikiran positif, “ah, sudahlah, mungkin tertekan, atau hp papa dimainkan oleh adik”. Tak puas hati ane hanya ber khusnudzan, ane sms mama, “ma, nlpon tadi?”, tak ada balasan, hati makin cemas, namun tetap ber prasangka baik.
"Papa ke Padang yud, jumpailah, telpon dia”, sms ini masuk selang beberapa jam sms tadi ane kirimkan, haaaahh, lega hati rasanya, langsung ane cari kontak dan hubungi nomor papa. Dari percakapan singkat dengannya, ane ambil kesimpulan, beliau datang ke Padang, menemani rekannya mengurus kuliah anaknya dan sekalian mengantar sambal buatku, ya! sambal!. subhanallah,… sambal senilai 5 ribu rupiah tadi siang langsung diganti oleh Allah dengan sambal kiriman. “indahnya ketika kita ikhlas bersedekah”, bisikku dalam hati. Sekitar jam 10 malam, papa pun sampai di kediaman ane, dan langsung menyerahkan sambal yang dititipkan mama untuk ane. Sambil bercanda, papa juga menawarkan, “uang mau juga?”, sambil tersenyum simpul, ane jawab malu-malu (mau), “iya… hehe”.. –subhnallah! tidak hanya sambal yang diganti Allah, uang pun diganti Nya!..- “indahnya bersedekah ikhlas, Dia langsung menggantinya dengan yang lebih layak, seandainya semua orang tahu tentang hal ini, tidak, ane ingin semua orang tahu tentang hal ini!” banyak sebenarnya kisah serupa seperti yang ane alami, namun ane harap, dengan kisah yang ane alami, mungkin hanya lewat tulisan ini, mudah-mudahan memberi makna dan pelajaran untuk kita semua. Fastabiqul khairat.
wassalamualaikum wr. wb.

0 comments:

Posting Komentar