Kembali Ke FitrahSetiap menjelang Idul Fitri, kita begitu akrab dengan kata kembali ke fitrah. Sebuah kalimat yang begitu indah. Namun ini bukan sekedar kelimat penghias ucapan belaka, kembali ke fitrah adalah kunci sukses manusia di dunia dan akhirat. Dan, kita tidak akan memiliki kunci sukses ini jika kita tidak memahami makna yang sebenarnya.


Kita tidak akan pernah mendapatkan apa pun yang tidak kita ketahui. Anda tidak akan mendapatkan emas meski pun Anda berada di tambang emas jika Anda tidak mengetahui mana yang emas mana yang batu. Jadi ini alasan kita harus memahami makna kembali ke fitrah, agar kita bisa mendapatkannya. Artinya agar kita bisa kembali ke fitrah manusia.
Inilah Makna Kembali Ke Fitrah

Apakah Makna Kembali Ke Fitrah Itu Seperti Bayi Yang Baru Dilahirkan?

Ya, memang seperti itu. Namun sayangnya, banyak yang memahami bahwa yang dimaksud seperti bayi itu hanyalah bebas dari dosa. Ini benar, namun belum lengkap. Coba kita simak hadits ini:

Kemenangan itu terasa indah. Namun bukan hanya keindahan, kebahagiaan, dan kebanggaan yang kita dapatkan. Jika kemenangan itu dalam hal yang berarti, maka kemenangan akan menjadikan hidup kita lebih berarti. Kemenangan dalam dakwah akan menjadikan ajakan kita kepada Allah semakin luas. Semakin banyak orang yang bisa kita ajak dalam kebenaran.


Kita memang seorang pemenang, namun bukan berarti kita diam hanya menikmatinya. Raihlah lebih banyak lagi, untuk kebahagian, untuk hidup yang lebih berarti, untuk prestasi yang tinggi, dan juga untuk dakwah. Tidak ada alasan berhenti selama nafas kita belum berhenti.
Kemenangan Itu Identik Dengan Perjuangan

Hanya orang spesial yang mau meraih kemenangan, sebab meski pun kemenangan itu indah, namun kemenangan itu identik dengan perjuangan. Artinya, untuk meraihnya kita harus berjuang. Tidak mungkin bisa kita capai tanpa perjuangan.

Bahkan, bisa jadi perjuangannya begitu melelahkan dan begitu panjang. Jalan berliku, terjal, dan batu sandungan ada di mana-mana. Memang tidak mudah, hanya orang-orang tertentu yang pantas mendapatkannya.

Apakah Anda Layak Meraih Kemenangan?


Cara mengetahuinya adalah sangat mudah. Jika Anda seorang yang sanggup berjuang dan mengatasi segala halangan dan rintangan, serta terus berjuang sampai hasil yang diinginkan tercapai,
Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata,“Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7])


Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)

Macam-Macam Sabar

al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1]